Selasa, 02 Juli 2013

Makna kerja bagi manusia




Kerja. Sebuah usaha atau kegiatan yang wajib dilakukan manusia untuk mencapai sebuah hasil. Sejak kecil, manusia sudah dikenalkan pada kegiatan ini, walaupun kegiatan ini tidak berarti “KERJA” pada umumnya. Yang para anak-anak tahu adalah sejauh mereka menggerakkan badan mereka untuk kegiatan yang bermanfaat.Seperti belajar, membantu orang tua atau membantu orang lain. 

Kerja juga bukanlah kegiatan yang sia-sia. Dengan bekerja, manusia tentunya akan mendapatkan hasil dari kerja yang telah mereka lakukan. Seorang anak yang belajar dengan tekun akan mendapatkan nilai yang bagus. Anak yang membantu orang tuanya atau orang lain akan membuat orang tuanya atau orang lain tersebut senang. Ungkapan rasa senang itu bisa berupa pujian, belaian, atau mungkin hadiah yang berupa materi, contohnya uang atau barang.

Kerja yang sebenarnya baru akan dihadapi manusia saat mereka meninggalkan bangku sekolah. Saat itu usi manusia rata-rata berumur 18 tahun. Sebagian ada yang langsung bekerja , sebagian ada yang kuliah dan sebagian lagi ada yang mengambil keduanya (kuliah sambil bekerja atau bekerja sambil kuliah).

Dalam bekerja, manusia menemukan dunia baru yaitu mengenai profesional dan komitmen. Mereka juga dituntut untuk serius. Selain hal-hal tersebut, mereka juga akan menemukan teman baru, lingkungan baru dan pengalaman baru. Ketiga hal tersebut juga sangat berpengaruh pada diri tiap manusia. Biasanya mereka akan mengalami perubahan. Entah itu mundur, maju atau tetap. Tetap disini maksudnya perubahan yang berimbang. Entah mundur negatifnya dan maju positfnya atau justru sebaliknya. 

Semua hal itu bagaimanapun juga membuat manusia semakin berkembang. Itulah efek dari bekerja. Manusia dapat menggali dan semakin tahu potensi dan kualitas yang dimilikinya. Berkembangnya seorang manusia tentunya merupakan suatu hal yang membangakan hingga mereka sedikit melupakan alasan mendasar dari bekerja itu sendiri.

Manusia dianjurkan bekerja guna menggerakkan tubuh. Tanpa bekerja, manusia perlahan akan merasa hampa seolah tak memiliki ruh lagi layaknya selongsong kosong. Bekerja membuat manusia semakin sehat dan bugar. Justru dengan bersantai (tidak bekerja), manusia akan menjadi malas hingga perlahan berat badanpun naik. 

Bekerja juga dilakukan manusia untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup. Tak ada uang kau tak bisa hidup, begitu istilahnya. Dan uang yang mereka cari dengan bekerja merupakan uang yang halal. Memang terkadang uang-nya tidak halal, namun itu bukan dari pekerjaan karena semua pekerjaan itu baik. Jika uang itu haram, maka itu bukan di dapat dari bekerja. Contohnya saja korupsi, mencuri atau memalak.

Bekerja memang tidaklah mudah. Ini bukan berarti kita tak mahir atau tak menguasai pekerjaan kita, tapi karena sistem serta keadaan dalam pekerjaan itu sendiri. Contohnya peraturan. Biasanya dalam bekerja banyak ditemukan peraturan konyol yang sering tak masuk akal. Tak masuk akal jika dikalkulasikan atas nama gaji, fasilitas, lamanya waktu kerja, lamanya istirahat, serta banyaknya pekerjaan. Dan biasanya  pula, kata tak masuk akal dikemukakan oleh para pegawai.

Bukan hanya itu, kondisi lingkungan kerja terkadang tak sehat dengan adanya tukang adu domba, tukang peras, mata-mata, dan para pencari muka. Beberapa tahan dan beberapa tidak. Mereka yang tak tahan akan hengkang dari pekerjaanya.

Masalah tersebut memang sangat familiar. Wajar ada yang tak tahan. Yang mengherankan, kenapa banyak yang bertahan? Alasan klasik adalah demi keluarga. Akan makan apa  keluarga saya nanti? Jika saya keluar, bagaimana saya menghidupi keluarga saya?

Sungguh salut akan pertahanan mereka. Mereka masih bisa bekerja walaupun diperlakukan tak adil. Harga diri mereka, hak mereka sebagai manusia harus dikorbankan demi uang.Uang, yang merupakan hal dicari manusia melalui bekerja merupakan benda yang memiliki kekuatan hebat. Uang memang benda mati, namun uang dapat mengendalikan manusia. Uang dapat mengubah manusia menjadia bengis, begitu pada umumnya. Beberapa manusia menjadi terlalu terpaku pada uang hingga melupkan hal-hal penting di sekelilingnya (keluarga). Orang yang seperti ini disebut workaholic. Memang tak semua wokaholic terpaku pada uang. Namun mereka tetap menomorsatukan pekerjaanya lebih dari apapun, terlepas apakah mereka mencitai pekerjaan tersebut.

Disamping wokaholic, orang yang terpaku pada pekerjaan tentu saja para pemimpin perusahaan karena merekalah yang bertanggung jawab atas berjalannya perusahaan serta karyawannya. Namun tak berarti semua pemimpin adalah wokaholic.

Berbicara tentang para pemimpin perusahaan, terkadang mereka sering lupa akan kesejahteraan karyawannya bahkan terkesan semena-menademi meraih sukses menjalankan produksi. Memang pernyataan seperti ini abstrak. Tapi bukankah seperti itu? Jika mayoritas pekerja mengeluhkan atasannya, tak ada salahnya jika para atasan dinyatakan seperti itu.

Apakah dunia bekerja selalu seperti itu? Ketka bekerja, kita berusaha melakukan yang terbaik. Selang beberapa lama kita mulai merasa tak betah. Ada saja hal yang membuat hati kecil ita bertontak. Dan ujungnya muncul istilah rumput tetangga memang lebih hijau. Ini yang menjadi pemicu kita untuk segera mengakhiri kerja di tempat tersebut.
Ssesulit itukah bekerja? Kita sudah dituntut untuk menjadi profesional serta memegang komitmen. Kita berusaha melakukan yang terbaik bahkan terkadang bekerja melewati batas waktu kerja pada umumnya. Untuk apa semua itu? Uang, itu karena tujuan awal manusia bekerja adalah untuk mencari uang. 

Kalu begitu, untuk apa sekolah tinggi jika yang kita tuju selama ini adalah uang? Untuk apa belajar tekan dalam setiap junjang pendidikan jika ujungnya kita diperbudak? Dan jika sudah seperti ini, dimanakah nikmat bekerja?

Serendah itukah manusia demi mempertahankan uang? Rela dicaci maki dengan gaya binatang, rela dipecah belah keyakinannya, rela diperlakukan layaknya peri rumah. Jika begitu, bekerja merupakan simbosis parasitisme? Pegawai terlalu bergantung pada atasan tak peduli bagaimana mereka diperlakukan.

Para pegawai yang bosan bekerja pada orang kebanyakan akan berubah haluan menjadi orang yang memperkerjakan orang lain atau entrepreneur. Perintisan karir daalm usaha memang berat. Jatuh bangun dengan hambatan dari segi materi serta keluarga. Banyak memang yang sukses. Tapi entahlah, apakah para entrepreneur sukses ini akan menjadi sama dengan para atasan mereka saat mereka jadi pegawai dulu? Alsan kenapa mereka keluar kerja dan mencoba menjadi pengusaha . Siapa yang dapat menjamin hati seseorang yang bergelimang uang?



Tidak ada komentar: