Kamis, 19 April 2012

Sahabatku

Sahabatku... 
Dia ini,, sangat berbeda dengan yang lain.
Sahabatku terkenal oleh keriangannya. Sebagai orang yg periang, tentu dia tak goyah ketika dirundung masalah. Karena dia memang tak memperlihatkan kacaunya perasaanya.
Sahabatku tetap tersenyum dan melontarkan kata2 lucu. Bahkn saat menangispun dia masih terlihat lucu. 
Dia memang slalu ceria. Tapi bukan berarti hidupnya baik-baik saja. Justru keceriaanya itu adalah topeng.. Dia selalu ceria meskipun sesungguhnya dia telah bertahan dalam menampung barelan air mata.
Sahabatku memang hebat.....
Dia berjuang melewati semua keterbatasnnya. Terbatas,,!! Itulah kata yang selalu dia sebut dalam mendeskripsikan dirinya. Karena dia terlalu minder akan kekurangannya dan malu untuk menunjukkan kelebihannya. Dia selalu terfokus pada kekurangannya karena lingkungannya yang men-judge sepert itu. Dia tertekan pada pandangan oang-orang disekitarnya. Seolah pandangan mereka merajamnya hidup-hidup. Tapi dia masih ceria. Hal-hal tersebut tidak membuatnya frustasi. Atau dengan kata lain, dia mampu menyembunyikan rasa frustrasinya.
Tapi dimataku, dia sangat luar biasa. Orang tertangguh yg pernah ketemui-selain ibuku.. 
Sahabatku mengenalkanku pada survival.  Dia tak pernah bergantung pada orang lain. Jika  kita bergantung pada orang lain, saat kehilangannya kita akan rapuh tak berdaya.
Dia bisa sekuat itu karena sahabatku telah kehilangan orang yg sangat disayangnya. Orang yang selama ini melindunginya. Tapi dia tetap tabah. Sesusah apapun kita, kita tetap harus berjuang. Sejak itulah dia memutuskan untuk menghadapi segalanya sendiri
Menurut sahabatku....
Kita tak perlu berpangku pada sahabat yg lain. Karena kita tak akan bersama selamanya. Lebih baik berteman jangan bersahabat. Bersahabatlah dengan satu atau dua orang. Karena sahabat yg asli akan selalu ada. Walaupun jauh, dia tetap ada. Ada dalam setiap langkah kita. Dan dalam doanya dan harapannya.
Aku belajar kepedulian padanya. Dia selalu datang demi temannya walaupun jaraknya dan temannya itu jauh. Walau setelah pertemuannya dengan sahabatnya yang lain justru menyakitkan. 
Dia mengajarkanku akan pamrih dan pengorbanan dalam sebuah pemberian. Karena hal itu akan lebih bermakna dari pemberian yang bernilai mata uang. Yang penting kita bisa saling menghormati. Dengan melontarkan “Terima Kasih” atau “Bagusnya”. Itu sudah cukup.
Sahabatku menyadariku tentang indahnya cinta. Bahwa cinta itu adalah persahabatan.
Aku tak pernah mengistimewakan harinya. Aku tak bisa menjadi yg berarti baginya. Topi dia selalu mengistimewakanku. Dia tak sadar betapa kuat dan kreatifnya dirinya. 
Maaf sobat. Aku tak pernah membuatmu tersenyum ataupun tertawa. Karena saat kita berhadapan, justru air matalah yang selalu ada darimu. Maaf aku tak bisa bersifat sangunis sepertimu.