Selasa, 22 Mei 2012

Venus ku


Hal yang kusukai
Ketika melamunkan dirimu
Coletehmu, sikapmu dan hidupmu
Walau ku tahu kau tak peduli
Mungkinkah begitu?
Karena memang kita terpisah
Dalam jarak yang nyata dan kasatmata

Fikirku entah ada dimana
Ku hanya tahu anganku peluk dirimu
Bercumbu muka tuk katakana
Yang tak pernah terucap
Aku sadar mungkin ini terlambat
Disaat warna hidup kita kian berbeda
Tapi tidakkah kau tahu, Venusku
Bahwa fikiranku terfokus padamu

 by Ughie
(persembahan untuknya yang telah menawan hatiku)



UGHIE ;
Hari yang terlewati sarat akan makna
Tatkala hati yang kosong
Dan jiwa dipenuhi kehampaan
Setia dalam penantian
Tak sanggup tuk berkata
Berusaha menjalani hidup dengank kepura-puraan
Saat begian diri entah ada dimana

Dengarkah kau yang disana?
Ketika hati merintih dan jiwaku memanggilmu
Pada rasa rindu yang kian menusuk
Aku disini terperangkap dalam khayalan
Tapi kepercayaan pada keajaiban memaksaku maju


Hati didera rindu yang kian menusuk
Berkutat dalam usaha pemendaman hasrat yang bergejolak
Membuat jiwa ini makin tak berdaya
Sampai kapan ku harus memendam harap yang tak pasti
Menyaksikan jemari kecil ini menggapai asa kosong
Sanggupkah diri ini larut dalam harapan kandas???

Jumat, 18 Mei 2012

Sempurnaya Melankolis


Dari katanya saja, Melankolis, bisa disimpulkan bahwa arti atau maksudnya adalah sedih. Itu sih memang menurut penafsiran orang kebanyakan. Tapi mungkin kita lebih familiar dengan kata melow dan galau. Memang, orang yang memiliki karakter Melankolis dikenal senagai karakter yang selalu mellow dan galau. Benarkah begitu??? Ah tidak juga.
Melankolis berasal dari kata melanchole (bahasa Yunani) yang berarti empedu hitam. Dalam dunia psikologi, memang ada empat watak atau karakter manusia, yaitu Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Plegmatis.
Kebanyakan orang menyimpulkan orang Melankolis itu “Cemen” karena sifat mereka yang sering melow. Padahal orang Melankolis itu orang yang luar biasa. Si sempurna, itulah julukan untuk orang-orang yang memilik karakter ini. Julukan ini diberikan untuk mereka karena para Melankolis selalu menginginkan segala hal berjalan dengan baik. Selain itu, para Melankolis juga seorang pengamat dan pendengar yang baik. Walaupun mereka cenderung pendiam, tapi bukan berarti mereka acuh akan sekitarnya. Mereka dapat menganalisa hal-hal disekelilingnya.
            Sebagai seorang pengamat, mereka menyimpulkan segala hal yang mereka lihat, dengar dan rasakan sesuai definisi. Itulah istilahnya, “definisi”, langkah hati-hati yang selalu mereka lakukan. Walaupun mereka teliti dalam mengamati, mendengar dan menganalisa, terkadang sifat kehati-hatian mereka tersebut membuat mereka menjadi lambat dalam bertindak dan mengambil keputusan. Karena mereka membutuhkan waktu lebih lama dalam berfikir. Yah, walaupun tujuan mereka baik, yaitu untuk yang terbaik dan mencapai kesempurnaan.
Para Melankolis juga seorang pemerhati yang baik. Jika orang-orang disekitar kalian ada yang sangat perhatian, kemungkina besar orang tersebut memiliki watak Melankolis. Para Melankolis biasa perhatian pada orang-orang disekitarnya, seperti keluarga,sahabat, teman dan kekasih. Namun terkadang perhatiannya suka disalahtafsirkan oleh orang lain (terutama jika si Melankolis dan orang tersebut berbeda jenis kelamin).  Seolah ada udang di balik batu J. Jadi janganlah terkejut dengan orang yang suka perhatian. Para Melankolis melakukan hal ini semata-mata karena dirinya memang harus melakukannya karena ikatan di antara dirinya dengan orang tersebut. Entah sebagai anggota keluarga, sahabat, teman ataupun pacar.
  Melankolis juga seorang pencinta keindahan. Maka dari itu, mereka akrab dengan seni dan otak kanan mereka lebih mendominasi dari otak kiri mereka. Namun bukan berarti para seniman pasti memiliki karakter Melankolis dan para ilmuwan tidak berkarakter Melankolis.
Salah satu seni yang kebanyakan Melankolis geluti adalah sastra atau dunia tulisan. Sangat mudah untuk mengetahui karya para Melankolis. Karena tulisan mereka begitu menyentuh dan terkesan pesimis. Itu karena isi tulisan mereka lebih menekankan pada perasaan. Para Melankolis mampu mendeskripsikan ide mereka dengan sangat baik melalui tulisan karena mereka memiliki kepekaan yang tinggi dan erat hubungannya dengan perasaan. Mereka dapat mendeskripsikan dengan baik sebuah perasaan hingga si pembaca dapat terhanyut dalam tulisannya.
Namun dengan kepekaanya, Melankolis dapat menjadi pribadi yang berbahaya. Untuk tingkat rendah, mereka dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak suka disebut salah. Itu karena mereka selalu hati-hati dalam berencana dan bertindak. Jadi, jika mereka divonis bersalah, mereka sangat tidak suka. Dan untuk kategori yang besar, mereka adalah pendendam sejati. Sifat mereka yang peka ini mendorong kuatnya fikiran jangka panjang mereka, sehingga jika ada hal yang tak menyenangkan menusuk perasaanya secara berkelanjutan, mereka akan sangat marah dan terus menimbun perasaan marah ini hingga menjadi dendam. Untuk menghapus perasaan dendam ini, mereka butuh waktu yang sangat lama hingga bertahun-tahun.
  Kembali pada julukan “cemen”, julukan ini diberikan mungkin karena para Melankolis cenderung pesimis dan sering merasa tertekan. Dua sifat tersebut, pesimis dan tertekan, memang fakta dari karakter ini dan juga menjadi sisi kekurangan karakter “Sempurna” ini. Namun ada alasan mereka tetap bergelut dalam sifat ini, yaitu mereka butuh kekuatan. Walaupun mereka “sempurna”, mereka tak berpendapat bahwa diri mereka bisa menaklukkan apa saja. Mereka butuh motivator dan sandaran yang mampu mendongkrak kekuatan mereka. Dan berbicara tentang kekuatan besar, tentu ini mengacu kepada Yang Maha Tinggi. Benar, Tuhanlah tempat ketergantungan mereka. Dengan sugesti mereka yang selalu menginginkan ekuatan besar sebagai penopang, ini membuat kebanyakan Melankolis dekat dengan Tuhan (religius).
Dalam muamalah, Melankolis cenderung dekat dan nyaman dengan para Plegmatis. Ini dikarenakan sifat kedua karakter ini tak jauh berbeda. Plegmatis yang memiliki julukan “Juru Damai” ini memang senang berada di belakang layar, dengan kata lain mereka orang yang kalem bahkan cenderung pendiam. Selain itu sifat mereka yang optimis dan “Speak Up” mampu mengubur sifat pesimis dari para Melankolis. Maka tak heran bila para Melankolis lebih menunjuk para Plegmatis untuk menjadi orang terdekatnya, baik itu sebagai sahabat ataupun teman hatinya.
Walaupun mereka merasa nyaman berada dekat para Plegmatis, ini bukan berarti mereka menjauh dari Koleris dan Sanguinis. Dua watak ini juga mempengaruhi hidup mereka dengan penuh warna. Melankolis tetap butuh Sanguinis dan Koleris dalam kehidupan mereka. Sanguinis sebagai penyeimbang, antara pendiam (Melankolis) dan cerewet (Sanguinis). Sedangkan Melankolis butuh Koleris dalam persaingan, antara “Si sempurna” dan “Si ambisius”.
Melankolis memang tak pilih-pilih dalam berteman, namun Melankolis sangat selektif dalam sharing. Dan tak diragukan, jika Melankolis akan cepat merasa nyaman dengan Plegmatis dan tak segan untuk “membuka diri” dengan mereka.

[Mozaik Blog Competition] Soulmateku


http://mozaikpublishouse.multiply.com/journal/item/17?mark_read=mozaikpublishouse:journal:17&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Buku itu hanyalah lembaran kertas yang dipenuhi tulisan dan dijilid. Tapi kenapa ya sangat menarik? Banyak orang rela menghabiskan uangnya demi buku dan banyak pula yang menganggap buku adalah harta karun yang luar biasa. 

Bagiku buku itu adalah soulmate. Dia adalah teman yang menemaniku kemanapun aku pergi. Ehehe. Sebenarnya aku sih yang sengaja membawanya kemanapun aku pergi. J Rasanya ada sesuatu yang kurang bila di tasku tak ada buku. Walau dalam perjalanan aku tak membacanya, setidaknya aku merasa aman dan tenang bila ada sebuah buku di dalam tasku. Tapi kenapa harus buku ya? Karena buku itu soulmate-ku (bukannya sudah disebut sebelumnya?) 

Karena buku membuatku tak perlu keliling dunia, cukup dengan membacanya aku mengenal dunia. Setiap buku memang menawarkan dunia yang berbeda, dan aku selalu terpesona tiap menjelajahi dunia tersebut. Aku tahu tentang sihir dari Harry Potter, tahu indah dan kejamnya  cinta dari Romeo dan Juliet, tahu isinya Amerika Serikat dari The Lost Symbol dan Deception Point, tahu ketekunan dari Negeri Lima Menara, tahu kegigihan dari Laskar Pelangi, tahu sejarah bangsa Indonesia yaa dari buku pelajaran Sejarah, tahu kata-kata asing dari kamus dan tahu pedoman hidup dari Kitab Suci.

Bahkan novel yang selama ini dianggap remehpun sangat berarti buatku. Mereka seperti dosen. Karena mereka mengajariku tentang sastra. Yah secara, buku (maksudnya novel) memang karya sastra. Melalui kata-kata yang tertulis di novel tersebut, kita dapat mengetahui gaya bahasa si penulis. Bukan hanya itu, unsur-unsur intrinsik dalm novelpun dapat mengajariku. Dari tema, aku menyadari hidup itu mmiliki kerumitan yang bervariasi namun menghadapi dan menjalaninya adalah suatu nikmat yang amboy rasanya. Dari penokohan, aku mengenal watak dan karakter manusia dan artinya aku tak perlu kuliah di jurusan psikologi. Dari latar belakang, aku bisa mengetahui sejarah, budaya (yang mencakup gaya hidup, agama dan makanan khas), teknologi, bahkan mengenal ciptaan-NYA seperti alam, binatang dan tumbuhan lebih dekat. Dan satu lagi, plot. Plot mengajariku bahwa hidup itu penuh kejutan dan tak berakhir seperti keinginan kita. 

 
Buku tetap saja mengasyikkan sekalipun itu buku-buku berat (bukan saja karena tebal halamannya). Seperti buku biografi yang penuh motivasi, atau kumpulan karya Chairil Anwar, Jalaluddin Rumi atau Kahlil Gibran yang syairnya menyadarkan akan nikmat hidup sepenuhnya. 

Buku memang seperti makanan yang dikonsumsi setiap hari yang tanpanya manusia akan mati. Anehnya, semakin sering kita membaca, semakin bodohlah diri kita. Karena hal-hal yang kita tak ketahui lebih banyak daripada yang kita ketahui. Wajar saja bila ada kata mutiara buku adalah jendela dunia. Bahkan Ron juga membuat istilah “Kalau kau ragu, pergilah ke perpustakaan. Begitulah yang dlakukan Hermione “.

 Buku memang memiliki daya tarik magis yang luar biasa. Aku tak peduli bila teman-temanku menganggapku aneh ketika kami mengunjungi Mall dan toko bukulah yang langsung kutuju bahkan aku tak beranjak dari sana sampai kunjungan kami ke Mall itu selesai, atau ketika aku jadi tuli mendadak karena tengah melahap buku. Itu semua tak masalah bagiku. Yang menjadi masalah adalah  ketika mereka menjulukiku dengan KUTU BUKU. Karena aku bukan KUTU BUKU, melainkan PREDATOR BUKU. J

Kamis, 19 April 2012

Sahabatku

Sahabatku... 
Dia ini,, sangat berbeda dengan yang lain.
Sahabatku terkenal oleh keriangannya. Sebagai orang yg periang, tentu dia tak goyah ketika dirundung masalah. Karena dia memang tak memperlihatkan kacaunya perasaanya.
Sahabatku tetap tersenyum dan melontarkan kata2 lucu. Bahkn saat menangispun dia masih terlihat lucu. 
Dia memang slalu ceria. Tapi bukan berarti hidupnya baik-baik saja. Justru keceriaanya itu adalah topeng.. Dia selalu ceria meskipun sesungguhnya dia telah bertahan dalam menampung barelan air mata.
Sahabatku memang hebat.....
Dia berjuang melewati semua keterbatasnnya. Terbatas,,!! Itulah kata yang selalu dia sebut dalam mendeskripsikan dirinya. Karena dia terlalu minder akan kekurangannya dan malu untuk menunjukkan kelebihannya. Dia selalu terfokus pada kekurangannya karena lingkungannya yang men-judge sepert itu. Dia tertekan pada pandangan oang-orang disekitarnya. Seolah pandangan mereka merajamnya hidup-hidup. Tapi dia masih ceria. Hal-hal tersebut tidak membuatnya frustasi. Atau dengan kata lain, dia mampu menyembunyikan rasa frustrasinya.
Tapi dimataku, dia sangat luar biasa. Orang tertangguh yg pernah ketemui-selain ibuku.. 
Sahabatku mengenalkanku pada survival.  Dia tak pernah bergantung pada orang lain. Jika  kita bergantung pada orang lain, saat kehilangannya kita akan rapuh tak berdaya.
Dia bisa sekuat itu karena sahabatku telah kehilangan orang yg sangat disayangnya. Orang yang selama ini melindunginya. Tapi dia tetap tabah. Sesusah apapun kita, kita tetap harus berjuang. Sejak itulah dia memutuskan untuk menghadapi segalanya sendiri
Menurut sahabatku....
Kita tak perlu berpangku pada sahabat yg lain. Karena kita tak akan bersama selamanya. Lebih baik berteman jangan bersahabat. Bersahabatlah dengan satu atau dua orang. Karena sahabat yg asli akan selalu ada. Walaupun jauh, dia tetap ada. Ada dalam setiap langkah kita. Dan dalam doanya dan harapannya.
Aku belajar kepedulian padanya. Dia selalu datang demi temannya walaupun jaraknya dan temannya itu jauh. Walau setelah pertemuannya dengan sahabatnya yang lain justru menyakitkan. 
Dia mengajarkanku akan pamrih dan pengorbanan dalam sebuah pemberian. Karena hal itu akan lebih bermakna dari pemberian yang bernilai mata uang. Yang penting kita bisa saling menghormati. Dengan melontarkan “Terima Kasih” atau “Bagusnya”. Itu sudah cukup.
Sahabatku menyadariku tentang indahnya cinta. Bahwa cinta itu adalah persahabatan.
Aku tak pernah mengistimewakan harinya. Aku tak bisa menjadi yg berarti baginya. Topi dia selalu mengistimewakanku. Dia tak sadar betapa kuat dan kreatifnya dirinya. 
Maaf sobat. Aku tak pernah membuatmu tersenyum ataupun tertawa. Karena saat kita berhadapan, justru air matalah yang selalu ada darimu. Maaf aku tak bisa bersifat sangunis sepertimu.

Sabtu, 11 Juni 2011

[El Unique Family] KESOMBONGAN DI MASA MUDA YANG INDAH



Mengingat masa yang telah dilalui. Dua tahun! Yah sudah dua tahun usia LUF-eL Unique Family. Dan dalam pencapaian itu tidak mudah. Lika-liku pasti ada. Bahkan acara hari ini pun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Selepas supper yang dihiasi lelucon, semuanya bernostalgia. Luf,, dua tahun silam.. dimana hari selalu dihiasi tawa. Dan juga sempat di landa keguncangan. Ketika beberapa personilnya vakum. Hingga terlihat tak ada harapan lagi Luf dapat menyatu menjadi sebuah keluarga yang unik lagi.

Selama obrolan nostalgia itu, Audrey membagi-bagikan Cake Pet yang telah dipotongnya kepada lima belas personil Luf lainnya.

”Ya ampun!”, seru Amanda. “Aku kenyang. Coba kalian lihat..”Amanda menunjuk nampan yang berisi Cake pet,”…sisanya masih banyak! Ini kita apakan ya?”

“Kita berikan pada orang lain saja!”, kata Elzha mengusulkan.

“Kau serius?”, tanya Anys sangsi.

“Ya.. aku setuju. Kita berikan saja sisa Cake pet ini!”, kata Laurant. “Tapi kita berikan pada orang yang spesial bagi personil masing-masing!”

“Dan orang itu juga harus yang care pada kita, pada Luf!”, tambah Karra.

“Benar!”, Riesh menganggukan kepalanya. “ Jadi tidak hanya spesial, tapi juga peduli pada Luf. Bukan hanya khusus, tapi juga umum!”

“Baiklah!”, kata Cenia. “Kita kerjakan saja sekarang. Aku yakin untuk memodifikasi Cake Pet, kita akan memakan waktu lama!”

Dan begitulah, semua bekerja dengan semangat dan cinta. Tentu saja, Cake Pet ala Luf selalu dibuat dengan cinta. Karena yang akan memakannya adalah orang-orang tercinta. Dan kali ini, sisa Cake Pet akan diberikan pada orang-orang yang spesial bagi para personilnya. Tentu semua tampak sibuk. Sibuk memodifikasi bentuk Cake Pet, menghiasinya, memotong kertas, membungkusnya, dan tentu saja yang paling diributkan adalah memutuskan siapa enam belas anak laki-laki yang akan mendapat Cake Pet itu. Harus dilakukan dengan sangat teliti. Karena anak laki-laki itu harus-tidak hanya-care pada satu personil, tapi juga keseluruhannya.
***
Audrey tidak tenang pagi itu. Selain itu, rasa kantuk amat dahsyat menyerangnya. Tentu saja, pembuatan Cake Pet berlangsung hingga pukul tiga pagi. Jadi, kali ini Audrey harus berjuang melawan kantuknya, sementara Mr . Isyad dengan mata elangnya mengawasi tiap sudut kelas. Siap menerkam siswa yang ketahuan tertidur.

Dan Audrey makin saja tidak tenang. Bukan hanya karena rasa kantuknya, tapi juga rasa cemas sekaligus takut. Pikiranya hanya tertuju pada Cake pet buatannya dan orang yang akan menerimanya. Audrey tak peduli pada pelajaran yang sedang diterangkan Mr. Isyad-mungkin itu juga karena rasa lelah dan kantuk yang begitu kuat.

Sementara Romie yang dudik di barisan samping kanannya terus memperhatikannya. Sepertinya Romie tahu Audrey tampak gelisah. Audrey juga tahu serta sadar bahwa Romie sejak tadi memperhatikan kegelisahan yang ada pada dirinya. Audrey tahu itu. Karena dia mengawasi Romie dari sudut matanya. Audrey yakin sekali Romie tak sadar bahwa Audrey tahu Romie memperhatikannya.

Berulang kali Audrey menghembuskan nafas kuat-kuat. Audrey dapat merasakan detak jantungnya berdetak lebi cepat. Sementara keringat dingin terus-menerus mengucur melalui setiap pori-pori kulitnya. Audrey menggelengkan kepalanya , berusaha untuk focus pada apa yang sedang diterangkan Mr. Isyad. Tapi semua kata-kata yang Audrey tak tahu kebenaran dan ketepatannya berkecamuk dalam pikirannya.

“Audrey, sebaiknya jangan!”, kata Avreal. “Ini semua tak pantas dengan karaktermu. Kau itu seorang gadis pendiam, yah setidaknya orang-orang mengira kau seperti itu. Mustahil kau dapat melakukannya. Memberikan Cake Pet secara langsung pada Arsand?! Aku tahu kau berani dan siap. Tapi bgaimana kata orang nanti? Tidakkah mereka akan berfikir jelek tentangmu?”

“Audrey, Cake Pet itu dari kita!” kata Anya tegas. “Ingat, kita!!! Personil Luf!! Lagipula, masih ada lima belas anak laki-laki lain yang akan menerimanya. Tidak hanya Arsand. Niat kita kan baik. Ingin berbagi kesenangan di hari jadi Luf!”
***
“Ayo, Audrey!”, paksa Amanda sambil meninju pelan pundak Audrey. Audrey hanya diam saja. Dia ingin berdiam sebentar di depan kolam ikan yang terletakm di samping gedung asramanya. “Lagipula aku sudah bilang padanya!”, kali ini Amanda tersenyum kegirangan.

“Dia siapa?”, Audrey bertanya.

“Siapa?”, Amanda mengulang pertanyaan Audrey dengan suara keras. Seakan itu adalah pertanyaan bodoh. “Tentu saja dia itu Arsand Vileops Thatch!!!!”. Audrey tetap diam.

“Aku sudah bilang padanya bahwa bukan aku yang akan memberikan Cake Pet itu padanya!”, tambah Amanda. “Lalu arsand balas bertanya ‘Kalau bukan kau, lantas siapa?’. Akupun menjawab ‘Salah satu temanku’. Dan katanya lagi, ‘Temanmu? Siapa?’”

“Lalu kau jawab apa?”, Tanya Audrey makin penasaran.

“Kujawab ’Siapa saja! Lagipula siapa yang kau mau? Tinggal pilih!’. Arsand terdiamuntuk beberapa saat, kemudian dia berkata, ‘Terserah kau Amanda!’”.

“Karena jawabannya seperti itu, akupun balik bertanya, “Terserah aku? Benarkah? Kalau… Audrey bagaimana?’”

“Apa dia berkomentar setelah kau mengucapkan kata-kata itu?”, Tanya Audrey.

“Dia diam. Cukup lama. Karena tak sabar, akupun kembali bertanya padanya, ‘Arsand!!! Apakah kau mendengarku? Bagaimana jika Audrey yang memberikannya?’. Tak ada jawaban darinya. Kupanggil lagi namanya, Arsand hanya bergumam. Dan akhirnya dia berkata, ‘Ya sudahlah’. Samar – samar aku mendengar Arsand menggumamkan namamu”.

Audrey benar-benar pusing. Kenapa harus dibuat rule seperti ini? Semua personil Luf sepakat-termasuk dirinya walau agak enggan- untuk memberikan Cake Pet secara langsung pada anak laki-laki tertentu yang spesial bagi salah seorang personilnya dan laki-laki tersebut harus care dengan luf. Dengan kata lain dia harus welcome dengan semua personilnya.

Akhirnya dengan pikiran matang dan siap menanggung semua risikonya, Audrey menitipkan Cake Pet buatanya pada Amanda untuk diberikan pada Arsand.

Amanda sangat terkejut ketika Audrey menyerahkan Cake Pet pada dirinya. “Kau tidak serius kan?”

“Aku serius, Amanda!”, kata Audrey kalem. “Sangat serius. Jadi aku mohon Amanda, tolong berikan Cake Pet ini padanya. Aku sungguh tidak bisa!”

“Kau payah!”

“Apalah!”, Audrey mengibaskan tangannya tak peduli. “Yang penting kau harus memberikannya. Terserah kau ingin berbicara apapun tentangku padanya!”, Audrey segera berlalu dari Amanda yang masih berdiri terpaku di depan kolam ikan.

Bel berbunyi. Pasti sekarang pukul sebelas tepat. Waktunya masuk kelas. Audrey berjalan menuju kelasnya dengan langkah ringan. Di kanan kirinya berjalan personil Luf lain. Ya, kelas mereka memang satu gedung. Mereka semua asyik berbicara tentang Cake Pet. Namun Audrey hanya diam. Ia tak ingin membicarakan Cake Petnya. Audrey sedang menaiki tangga. Karena memang kelasnya di lantai dua. Kemudian Audrey merasa ada yang menarik tangganya. Audrey menoleh. Amanda sedikit terengah.

“Ayo berikan padanya, Audrey!”, katanya sambil mengacungkan Cake Pet ke depan hidung Audrey.
Audrey memandang kelas XI IPA 1. Sebuah suara dalam kepalanya berkata, “ Ayo, masih ada kesempatan. Cepat berikan!”.

Audrey menngelengkan kepalanya. “Tidak!”, katanya tegas. “kau dan luf lainnya satu kelas dengannya. Jadi kau-atau mungkin yang lain – lebih mudah memberikannya. Maaf Amanda, aku harus bergegas. Mr.Adral telah tiba!”, Audrey melepaskan tangan Amanda dari tangannya dan mendorong Cake Pet yang tadi diacungkan Amanda. Amanda hanya memandang Audrey yang masuk ke kelasnya tepat setelah Mr. Adral memasuki XI IPA 4.

Amanda memasuki kelasnya dan segera duduk di kursinya. Mr. Clapt belum datang. Tak lama Laurant datang dan duduk di sampingnya.

Laurant segera paham begitu melihat Cake Pet di atas mejaAmanda. “Jadi, Audrey benar-benar tidak mau untuk memberikannya secara langsung?”

“Ya, begitulah!”, jawab Amanda kalem. “Hey, Mr. Thatch!”, panggil Amanda begitu tahu arsand telah datang. Suasana kelas memang masih ramai. Jadi Amanda yakin tak banyak yang akan memperhatikan.
“Ada salam untukmu, Arsand!”, kali ini Laurant yang berbicara.

“Tidak lucu!”, kata Arsand ketus

“Sungguh! Ini serius!, Mimik wajah Amanda diubah menjadi sangat serius.

“Ya sungguh sangat tidak lucu!”, ujar Arsand.

Laurant dan Amanda kemudian menundukkan kepala mereka hingga sejajar dengan meja. Arsand yang penasaran ikut melakukan apa yang dilakukan kedua gadis yang duduk di sebelah kirinya itu.

“Dari…. Dia!”, ujar Laurant pelan. Nyaris seperti bisikan. Sementara itu Amanda hanya terkikik. “Maaf Dia tak bisa memberikannya secara langsung!”, tambah Laurant sambil tersenyum nakal. Kemudian Amanda segera menyerahkan Cake Pet pada Arsand.

Arsand menerima Cake Pet yang di letakkan di atas kardus biru berbentuk hati itu. Arsand berpikir bahwa kue itu cukup manis. “Ya sudah tidak apa-apa”, kata Arsand. “Tak jadi masalah!”. Arsand terus tersenyum dan matanya terus terfokus pada Cake Pet di tangannya.

“Arsand, maaf yah kuenya agak kecil!”, kata Amanda. “Karena memang bukan aku yang membuatnya. Jika aku yang membuatnya, aku jamin ukurannya akan lebih besar dari itu!”

“Memang siapa yang membuatnya?”, Tanya Arsand. Kedua alisnya menyatu.

“Ya siapa lagi…”, ujar Laurant tak sabar.”…tentu saja dia. Orang yang tidak jadi memberikan Cake Pet itu secara langsung kepadamu!”

Jawaban singkat namun cukup membuat arsand terperangah. Kali ini Arsand tersenyum lebar.

“Semalam, kami melakukan undian…”, kata Amanda.”…undian untuk menentukan siapa saja anak laki-laki yang berhak menerima Cake Pet!”. Amanda berhenti sebentar. Ingin tahu reaksi Arsand. “Dan saat tiba gilirannya, yang muncul itu namamu, Arsand!!! So sweet!”

“Amanda, kau ini selalu saja bisa meledek orang!”, ujar Arsand seraya tersenyum lebar.

Rabu, 18 April 2007.. 8.34pm

Masyitoh 2/2

Audrey :Bubu
Anya ; Risum
Amanda : Vemi
Riesh ; Mapit
Anys : Q2
Karra : Sari
Cenia : Macho
Avreal:Gieth
Syo Wind:Icul
Elzha:Ika
Rachel;Adhien
Caputra;Ophy
Dharry;Rida
Ezy: Ummu
Caryn;Riley
Laurant:Rezhoet

Fuziami=Yuli
Septia=Pahe
Imha=Fatim
Mars=Ratna
Niyha=Nikur

Aku Benci jatuh cinta

Aku benci jatuh cinta…
Karena…
Aku harus terlihat menawan di hadapannya
Aku harus menjaga sikapku
Aku harus slalu membuatnya tertarik kepadaku
Aku harus mmbuatnya gembira tak peduli usahaku dalm melakukanya membuatku menderita
Aku tak bisa menjadi diri sendiri
Aku tak bisa bebas


Aku benci jatuh cinta
Karean aku tak bisa fokus
Pada pekerjaan
Pada studi
Pada teman dan sahabat
Pada keluarga dan terutama padaNYA

Aku benci jatuh cinta
Karena waktu dan perhatianku tlah terbagi
Untuk harus memikirkanya
Untuk meluangkan waktuku untuknya
Untuk memperhatikannya
Untuk melamunkannya, mengkhayalkannya
Dan berfikir apa yang tengah dia lakukan
Apakah dia bahagia?? Ataukah tengah bersedih??

Aku benci jatuh cinta
Karena aku telah menduakanNYA
Aku mengkhianatiNYA karena aku mementingkan makhlukNYA
Karena cintaku padaNYA ternoda oleh cinta semu
Karena aku tak lagi merasakan ketenangan,,, yang ada hanya perasaan melayang nan hangat akibat desiran nafsu
Karena aku dideru perasaan bersalah kepadanNYA
Oleh perasaan yang kutahu orang tersebut belum halal atau mungkin tak akan pernah halal bagiku

Aku benci jatuh cinta

Dan…
Terlebih lagi jika dia mengutarakan cintanya
Sedangkan aku terpojok dalam keadaan serba salah




Karena kini dia adalah orang yang kucintai,,

bukan lagi sahabatku,,,,,

If I weren't love him

If I weren't love him...........
I wouldn't feel guilty when he was disappointed
I wouldn't feel sad and confused when saw him crying
I wouldn't be anxious when he wasn't well

If I weren't love him.............
I wouldn't owed him any merit every he helped me
I wouldn't be brave enough sharing my pain to him fluently
I wouldn't be glad every receiving his calls or his sms
I wouldn't worry when he didn't keep his promise
I wouldn't be hurt when he evaded

If I weren't love him..............
I wouldn't care of him. Whatever he does, whatever his likes or dislikes, whatever his talents or skills
I wouldn't take care of him or pay attention to him. about his activities, his buddies, his family, and people around him
I wouldn't care any of him said. because his comments aren't important

If I weren't love him..............
I wouldn't feel abnormal
I wouldn't be stronger and weaker at the same time
I wouldn't feel alone when he was far away
I wouldn't always expect he will arrive in front of my gate with white horse

If I weren't love him...........
I wouldn't tolerate his habit that definitely   I dislike
I wouldn't be influenced by his interesting that I didn't know and even I didn't like before
My tongue wouldn't be so tired because of talking about him all the time

If I weren't love him......
I wouldn't never try to make him happy
I wouldn't  try to step aside his sorrow
I wouldn't be eager to bear his burden

yah,,,,, If I weren't love him

If I weren't love him.......
I won't hurt anybody