Jumat, 17 Mei 2013

Luf dan Dufan

Lihat indahnya dunia
Milik kita semua
Walau berbeda bangsa ♫ namun satu saudara ...
Alangkah indah semua ♫
Lautan luas ...Angkasa luas...
Gemah riang bumi pertiwi ♫
Kamu harapan suci
Bahagia ,,, gembira ,,, semua
Satu tujuan kita ♫
Milik kita semuanya
Hidup senang bersama
Damai bebas merdeka


Bukan lirik yang asing, kan. begitu pula lirik dibawah ini 

masuki dunia fantasi
dunia ajaib nan mempesona
dunia sensasi penuh atraksi
rekreasi tuk keluarga

reff
marilah kita pergi sekeluarga
untuk dapat puas bahagia
dalam dunia yg mempesona
dunia fantasi kita
marilah nyanyi dan tertawa gembira
dalam dunia penuh impian
khayalan membawa harapan
dunia fantasi kita
dunia fantasi kita... bergembira... di dunia...
fantasi... kita...


Dua lagu diatas tentunya mengingatkan sebagian besar orang akan kenangan masa kecil mereka menjelajahi wahana-wahana di dufan. Sama halnya denganku. mendengar lagu ini membuat semua emosi tumpah ruah menjadi satu. Speechless dan sedih tentunya, sampai nangis (walau nggak sampai nangis Dayak) :P

Tapi nggak semua orang memiliki perasaan yang sama ketika mendengar lagu ini. Aku sempat dipandang aneh ketika tengah mendengarkan lagu ini oleh teman-teman kerjaku. Aneh memang, Tapi aku tak ambil pusing mereka sempat berfikiran aneh. Ehehe

Bagiku dua lagu diatas ini sangat berarti karena Dufan merupakan tempat bersejarah dimana aku dan sahabat-sahabatku mulai menjalin persahabatan kami. Kami yang menyebut diri kami El Unique Family (LUF) mulai merasakan getar-getar chemistry saat kami melakukan Field Trip di sana pada tahun 2005 silam. Dan yang membuatku sangat terikat dengan lagu ini adalah dua sahabatku membuat jingle tentang kami berdasarkan lagu ini.
Mengenal mereka di masa Teenager adalah bekal awal dalam menjalani hidup. Walaupun kami hanyalah anak-anak remaja, namun kami memiliki pemikiran panjang. Manis asamnya kehidupan remaja kami lewati dengan cara orang dewasa, serius namun diselingi humor. 

Berada ditengah-tengah mereka membuat hati dan fikiranku selalu berjalan maju dengan kekuatan positif. dan karena sekian lama aku hidup bersama mereka, aku menganggap mereka benar-benar keluargaku.

My Luf is everything. Mereka orang-orang hebat. tak cuma hebat otak kanan atau otak kiri, tapi juga hebat dalam lisan, perbuatan serta hatinya :). Merekalah yang membuatku memiliki Azzam yang kuat. Luf u my Luffy buddies 

 

Senin, 13 Mei 2013

Nabung Pohon dengan hemat kertas


Aku terenyuh melihat salah satu office boy di kantorku membawa setumpuk kertas yang baru saja di fotokopi olehnya. Aku memperkirakan tumpukan kertas yang masih hangat itu tingginya sekitar tigapuluh  sentimeter. Memang itu hal yang biasa. Yang menjadi tak biasa dimataku adalah kertas itu dipakai untuk dijadikan  data atau dokumen yang tidak krusial. Bukan sesuatu yang penting. Sedih dan sesak melihat tumpukan kertas itu terbuang percuma dan aku tak sanggup membayangkan berapa ribu ‘dokumen’ sudah terbuang percuma. Aku tak mempermasalahkan biaya atas pembelian kertas karena itu resiko atasanku (ups), aku hanya sedih mengetahui pohon yang telah tumbuh sekian tahun harus terbuang percuma dalam dokumen tak penting.

Tak ada yang bisa dilakukan sepertinya. Tak mungkin aku protes pada atasanku dan mungkin berakhir pada silat lidah antara aku dan beliau. Tapi aku tahu, walau sedikit, bagaimana membuat pengorbana si pohon menjadi lebih berarti bagi manusia. Dimulai dari diriku dan juga keluargaku dan kuyakin ‘menular’ pada tetangga, teman-temanku dan juga teman-teman adikku.

Sebelum mengupas cara “menabung pohon” versiku, sebaikya dikupas ulang bagaimana kertas terbentuk. Ini dimulai dari pohon, tepatnya batang pohon yang dipotong kecil-kecil kemudian dimasak dengan tujuan memilah serat kayu. Serat kayu ini kembali dimasak hingga menjadi bubur. Setelah itu, pulp(bubur kertas) diolah dengan menambahkan bahan – bahan kimia lainnya seperti zat warna kertas (standar warna putih), zat retensi, zat filler (zat untuk memadatkan pori – pori diantara serat kayu), air dll. Setelah menyelesaikan tahap ini, proses dilanjutkan ke areal paper machine (mesin kertas). Disini sisa sisa air yang terkandung dalam pulp dikuras atau dipress agar kertas menjadi solid. Setelah itu, kertas masuk dalam tahap pengeringan dan jadilah kertas yang siap diolah menjadi buku, koran, dll.  

Berbicara tentang kertas, bulan Juni nanti adalah musim kenaikan kelas. Kenaikan kelas berarti peralatan sekolah yang serba baru. Dan biasanya, yang popular baru adalah buku tulis. Jika seorang anak memiliki pelajaran sebanyak 10 pelajaran, maka dia butuh buku baru 10 buah. Jika setiap pelajaran diharuskan memiliki buku latihan dan catatan, maka setiap anak butuh 20 buku baru. Biasanya, buku yang digunakan berupa buku tulis 32 -38 halaman untuk pelajaran yang sangat jarang mencatat dan 58 ke atas untuk pelajaran yang sering mengalamai latihan dan juga catatan.  Mahal memang, tapi kembali lagi kita tak berbicara tentang harga. Kita berbicara tentang pohon yang telah menjadi lembaran kertas. 


Beberapa anak bahkan orang tua mungkin enggan bila tak mengganti buku tulis lama dengan buku baru saat kenaikan kelas. Gengsi alasan tepatnya. Namun hal ini adalah tantangan untukku bagaiman aku bisa membujuk adikku menggunakan buku tulis mereka dikelas yang lama (kelas sebelumnya). Mereka bisa mengganti buku tulis mereka dengan yang baru jika buku tulis lama mereka hanya tersisa beberapa halaman. Sedangkan untuk buku yang masih menyisakan banyak halaman kosong, mereka masih bisa menggunakannya di kelas baru mereka. Bukankah itu juga termasuk berhemat karena para orang tua tak perlu menyetok banyak buku tulis baru?!

Buku- buku bekas yang masih memiliki beberapa halaman kosong juga masih berguna. Halaman kosong itu cukup dirobek dan digabungkan dengan halaman-halaman kosong lain dari buku yang laing hingga meyerupai jilidan. Anak-anak tentu senang dengan ‘Jilidan’ kertas tersebut. Mereka bisa menggunakannya untuk coretan Matematika atau coretan iseng (gambar). 

Menurutku itulah langkah simpel mmenghargai alam. Saat ini memang lahan kosong sangat jarang ditemukan dan itu jugalah yang membuat manusia sedikit kesulitan menanam pohon. Kita bisa “menabung pohon” yang sudah ada dengan menghemat kertas Lagipula, menunggu pohon tersebut tumbuh juga tak  bisa dikatakan sebentar. Jadi kenapa tak mencoba mempergunakan apa yang sudah ada dengan sebaik-baiknya?! Nabung pohon tak selalu melakukan penanaman seribu pohon, nabung pohon bisa juga menggunakan kertas bekas menjadi kertas yang berguna.

http://www.kompasiana.com/cimbniaga/


Minggu, 28 April 2013

Hunger of Hunger Games

Pertama kali aku kenal Hunger Games itu saat ada pengumuman “Jakarta Adventure Day”. Acara ini ternyata diselenggarakan oleh dua komunitas yaitu Indo Harry Potter dan Indo Hunger Games. Sebulan setelah pengumuman acara tersebut, aku iseng mencari tahu apa sih Hunger Game itu. Aku, seperti orang awam kebanyakan, berfikir apa hubungannya Harpot dengan Hunger Game. Aku pikir itu hanya salah satu game (merujuk kepada kata Game dari frasa The Hunger Games) seperti Lost Saga, Point Black, dll. Apalagi kata Mockingjay itu gak asing bagi telingaku. Rasa rasanya pernah dengar gitu.


Ternyata Hunger Games itu novel trilogi karangan Suzanne Collins. Aku tertarik saat membaca kritik untuk buku ini yang katanya kejam. Bagaimana tidak, dalam permainan Hunger Games anak-anak kecil diadu untuk saling bunuh. Wuih… seru deh kayaknya kalau baca bukunya.


Aku yang pada dasarnya suka heboh jika menemukan sesuatu yang WAH, langsung berkata-kata sendiri di depan komputer hingga menarik perhatian teman-teman kerjaku. Aku jelaskan pada mereka bahwa aku penasaran dengan cerita The Hunger Games. Eh,, ternyata teman kerjaku malah sudah pernah nonton film-nya. Dan dia berjanji esok hari akan membawakan kasetnya untukku. (Aku tambah terkejut saat tahu Novel ini sudah diadaptasi ke film). Aku pun bergembira sekali dan segera mencoba mencari e-book The Hunger Games dan akhirnya aku berhasil menemukan ketiganya (The Hunger Games, Catching Fire, dan Mockingjay). Semuanya versi bahasa Inggris, tapi tak apalah. Yang terpenting aku bisa baca.

Dua minggu lamanya aku tenggelam dalam layar laptopku. Kerjaanku hanya baca, baca dan baca. Ternyata novelnya keren banget.  Apa saja yang keren? Mau tahu? Kasih tahu nggak ya? Ehehehe.

Menurutku, yang keren itu sih dari peraturan Hunger Games sendiri yang brutal (ya iyalah, anak-anak kecil diadu untuk saling bunuh. Mereka kan manusia, bukan domba atau ayam jago). Yang lebih mirisnya, sebelum dilepas ke arena, para tribute (24 anak itu) dimanjakan. Lihat saja mereka didandani menjadi sangat cantik dan tampan, padahal mereka (beberapa) sebelumnya tak pernah memakai baju bagus dan berpenampilan menarik. Selain pakaian, mereka juga bisa makan apa saja. Makanan yang sangat mewah dan mahal yang belum pernah mereka makan karena sebelumnya mereka terbiasa hidup miskin dengan perut selalu keroncongan. Ironis banget. Mereka kan tahu apa tujuan mereka ikut Hunger Games. Untuk bertarung dan mati (setidknya 23 dari mereka). Dan Capitol memperlalukan mereka persis seperti babi yang akan disembelih.

Selain peraturan Hunger Games yang miris, aku juga hanyut akan kehidupan Katniss sendiri. Thumbs up deh dan setuju banget dia itu survivor. Sejak umur sebelas tahun dia jadi kepala keluarga dan selalu berjuang menghidupi ibu dan adiknya. Penggambaran Suzanne atas Katniss membuatku ingat akan diriku. Aku juga anak pertama dan aku berasal dari keluarga yang biasa saja. Aku harus berjuang menghadapi kemelut hidup ini demi ibu dan tiga adiku. Yah, untuk ayahku juga sih. Hanya saja peran kepala keluarga sudah terbagi pada diriku, tak mutlak dimiliki beliau.

Cara Katniss berjuang ini mengingatkanku untuk tak lepas kontrol pada nafsu dan menyadarkaknku akan lima nyawa lain di rumah. Bahkan penggambaran rasa lapar merasuk dengan kuat dalam azzamku. Aneh memang, Indonesia masih memiliki banyak masyarakat kelaparan yang sering ditampilkan di layar kaca, tapi entah kenapa penggambaran Suzanne Collins-lah yang benar-benar menyentuhku dan membuatku merasa sebagai Katniss Everdeen.

Poin menarik ketiga mengenai star-crossed lovers district 12 yaitu Katniss dan Peeta. Jujur saja, dari ketiga buku aku sangat menyukai Catching Fire karena di buku tersebut banyak menceritakan Peeta dan Katniss yang melibatkan emosi(perasaan). Aku menyukai bagaimana cinta mereka tumbuh melalui Hunger Games dan kata-kata ”That’s what we do, protect each other” mengingatkanku pada partner perjuanganku di organisasi. Rintangan dalam berorganisasi membuat hubungan kami dekat walau sebelumnya kami hanya teman biasa yang hanya berkata ’Hai’ sat bertemu sebagai basa-basi. Di organisasi, kami saling menguatkan, saling menghibur bahkan bekerjasama menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Sayang, aku tak bisa mempertahankan hubungan ini. Dan kami kembali seperti dulu, menjadi teman biasa.

Poin keempat, dalam seri ketiga (Mockingjay), aku hanyut dalam perasaan Katniss yang galau tingkat dewa. Bagaimana tidak, banyak orang-orang yang dia cintai harus terancam. Katniss tak suka Distrik 13 memperlalukan dirinya dan tak ada satu orangpun yang mengerti dirinya dan mampu menentramkan hatinya. Memang ada orang yang tepat, hanya saja orang itu berada dalam cengkeraman Capitol, Peeta Mellark. Jika saja Peeta ada di distrik 13 bersama Katniss, tentu dia akan mendukung apapun yang dilakukan Katniss dan menetramkan Katniss saat Katniss bermimpi buruk,  bukan seperti Gale yang keras kepala dan penuh emosi.

Ada bagian yang kusuka disini. Saat Finnick telah menikah dengna Annie, Katniss iri melihat Finnick yang selalu menggenggam tangan Annie. Katniss iri karena Finnick bisa melakukan itu sesukanya dan dengan bahagia. Katniss membandingkan hal ini dengan dirinya. Bagaimana dia selalu show up dengan Peeta namun itu hanya akting dan bagaimana dia dengan Gale yang serba salah dan nyaris kaku. Ah,, dasar cinta. Deritanya tiada akhir (Patkai kali)

Anyway, Ladies and Gentlemen, those all what I feel about The Hunger Games. May the odds be ever in our favor. Mischief managed, then Nox (eh, itu Harry Potter)


#Hunger of November. Nggak sabar mau nonton Catching Fire :)

Kamis, 18 April 2013

Hotter Potter April Meme


Untuk bulan April ini, Hotter Potter memberikan pertanyaan Giveaway yang berupa

“Jika kamu berkesempatan mengunjungi toko buku Flourish and Blotts, buku apa yang akan kamu bawa pulang dari sana? Pilih 1 (satu) buku saja! Jangan lupa sertakan alasannya…”

 

Wow,, buku. Dengar katanya saja jadi melayang. Ehehe. Sebagai predator buku, pastinya suka banget baca dong. Dan jika aku bisa datang ke Flourish and Blotts serta membeli dan membaca buku sihir, it will be awesome and unforgettable experience. 

Tapi disinilah  aku jadi bingung. Buku apa ya, yang sangat kuinginkan? Di dalam dunia sihir sendiri, banyak buku yang menarik. Bukan hanya isinya, tapi juga bentuknya. Seperti buku Monster tentang Monster yang unik dan khas banget Hagrid.


Jadi pilihanku jatuh pada Buku Monster tentang Monster begitu? Ahaha, tidak. Aku justru ingin sekali membaca buku ini.




Kok tak ada gambarnya? Memang begitulah karena buku ini misterius. Buku ini tak terlihat dan menurutku bisa membacanya merupakan prestasi yang hebat. Aku akan senang sekali bisa membawa buku ini pulang dari Flourish and Blotts.

Buku Kasatmata tentang Kekasatmataan ini memang pernah dijual di Flourish and Blotts, namun karena bentuknya yang Kasat mata, Manager toko dan juga penyihir lain tak bisa melihatnya. Otomatis, buku ini tak terjual sebagaimana mestinya. Yah, bagaimana mau memberikan pada pembeli(saat mereka datang untuk membeli), karena si Manager toko tak tahu dimana letaknya.

"I'm never stocking them again, never! It's been bedlam! I thought we'd seen the worst when we bought two hundred copies of the Invisible Book of Invisi­bility — cost a fortune, and we never found them."


Aku tertarik  pada buku ini karena selain bentuknya yang misterius, aku jadi menduga buku ini berisi hal-hal rahasia sihir nan hebat. Mungkin saja buku ini didesain seperti ini untuk melindungi isinya yang luar biasa. 

Bukankah  hal misterius yang selalu dikejar manusia? Sesuatu yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang, seperti cinta :) justru dengan kemisteriusannya itu yang menjadi daya tarik. orang-orang akan terus berusahan untuk mendapatkanya. seperti aku yang sangat ingin mendapatkan "The Invisible Book of Invisibility" :)