Lihat indahnya dunia
Milik kita semua
Walau berbeda bangsa ♫ namun satu saudara ...
Alangkah indah semua ♫
Lautan luas ...Angkasa luas...
Gemah riang bumi pertiwi ♫
Kamu harapan suci
Bahagia ,,, gembira ,,, semua
Satu tujuan kita ♫
Milik kita semuanya
Hidup senang bersama
Damai bebas merdeka
Bukan lirik yang asing, kan. begitu pula lirik dibawah ini
masuki dunia fantasi
dunia ajaib nan mempesona
dunia sensasi penuh atraksi
rekreasi tuk keluarga
reff
marilah kita pergi sekeluarga
untuk dapat puas bahagia
dalam dunia yg mempesona
dunia fantasi kita
marilah nyanyi dan tertawa gembira
dalam dunia penuh impian
khayalan membawa harapan
dunia fantasi kita
dunia fantasi kita... bergembira... di dunia...
fantasi... kita...
Dua lagu diatas tentunya mengingatkan sebagian besar orang akan kenangan masa kecil mereka menjelajahi wahana-wahana di dufan. Sama halnya denganku. mendengar lagu ini membuat semua emosi tumpah ruah menjadi satu. Speechless dan sedih tentunya, sampai nangis (walau nggak sampai nangis Dayak) :P
Tapi nggak semua orang memiliki perasaan yang sama ketika mendengar lagu ini. Aku sempat dipandang aneh ketika tengah mendengarkan lagu ini oleh teman-teman kerjaku. Aneh memang, Tapi aku tak ambil pusing mereka sempat berfikiran aneh. Ehehe
Bagiku dua lagu diatas ini sangat berarti karena Dufan merupakan tempat bersejarah dimana aku dan sahabat-sahabatku mulai menjalin persahabatan kami. Kami yang menyebut diri kami El Unique Family (LUF) mulai merasakan getar-getar chemistry saat kami melakukan Field Trip di sana pada tahun 2005 silam. Dan yang membuatku sangat terikat dengan lagu ini adalah dua sahabatku membuat jingle tentang kami berdasarkan lagu ini.
Mengenal mereka di masa Teenager adalah bekal awal dalam menjalani hidup. Walaupun kami hanyalah anak-anak remaja, namun kami memiliki pemikiran panjang. Manis asamnya kehidupan remaja kami lewati dengan cara orang dewasa, serius namun diselingi humor.
Berada ditengah-tengah mereka membuat hati dan fikiranku selalu berjalan maju dengan kekuatan positif. dan karena sekian lama aku hidup bersama mereka, aku menganggap mereka benar-benar keluargaku.
My Luf is everything. Mereka orang-orang hebat. tak cuma hebat otak kanan atau otak kiri, tapi juga hebat dalam lisan, perbuatan serta hatinya :). Merekalah yang membuatku memiliki Azzam yang kuat. Luf u my Luffy buddies
Jumat, 17 Mei 2013
Senin, 13 Mei 2013
Nabung Pohon dengan hemat kertas
Aku terenyuh melihat salah satu office boy di kantorku
membawa setumpuk kertas yang baru saja di fotokopi olehnya. Aku memperkirakan
tumpukan kertas yang masih hangat itu tingginya sekitar tigapuluh sentimeter. Memang itu hal yang biasa. Yang
menjadi tak biasa dimataku adalah kertas itu dipakai untuk dijadikan data atau dokumen yang tidak krusial. Bukan
sesuatu yang penting. Sedih dan sesak melihat tumpukan kertas itu terbuang percuma dan aku
tak sanggup membayangkan berapa ribu ‘dokumen’ sudah terbuang percuma. Aku tak mempermasalahkan biaya atas pembelian kertas
karena itu resiko atasanku (ups), aku hanya sedih mengetahui pohon yang telah
tumbuh sekian tahun harus terbuang percuma dalam dokumen tak penting.
Tak ada yang bisa dilakukan sepertinya. Tak mungkin
aku protes pada atasanku dan mungkin berakhir pada silat lidah antara aku dan
beliau. Tapi aku tahu, walau sedikit, bagaimana membuat pengorbana si pohon menjadi lebih
berarti bagi manusia. Dimulai dari diriku dan juga keluargaku dan kuyakin
‘menular’ pada tetangga, teman-temanku dan juga teman-teman adikku.
Sebelum mengupas cara “menabung pohon” versiku,
sebaikya dikupas ulang bagaimana kertas terbentuk. Ini dimulai dari pohon,
tepatnya batang pohon yang dipotong kecil-kecil kemudian dimasak dengan tujuan
memilah serat kayu. Serat kayu ini kembali dimasak hingga menjadi bubur. Setelah itu, pulp(bubur kertas) diolah dengan menambahkan
bahan – bahan kimia lainnya seperti zat warna kertas (standar warna putih), zat
retensi, zat filler (zat untuk memadatkan pori – pori diantara serat kayu), air
dll. Setelah menyelesaikan tahap ini, proses dilanjutkan ke areal paper machine
(mesin kertas). Disini sisa sisa air yang terkandung dalam pulp dikuras
atau dipress agar kertas menjadi solid. Setelah itu, kertas masuk dalam tahap
pengeringan dan jadilah kertas yang siap diolah menjadi buku, koran, dll.
Berbicara tentang kertas, bulan Juni nanti adalah musim kenaikan kelas. Kenaikan kelas berarti peralatan
sekolah yang serba baru. Dan biasanya, yang popular baru adalah buku tulis.
Jika seorang anak memiliki pelajaran sebanyak 10 pelajaran, maka dia butuh buku
baru 10 buah. Jika setiap pelajaran diharuskan memiliki buku latihan dan
catatan, maka setiap anak butuh 20 buku baru. Biasanya, buku yang digunakan berupa buku tulis 32 -38 halaman untuk pelajaran
yang sangat jarang mencatat dan 58 ke atas untuk pelajaran yang sering
mengalamai latihan dan juga catatan.
Mahal memang, tapi kembali lagi kita tak berbicara tentang harga. Kita
berbicara tentang pohon yang telah menjadi lembaran kertas.
Beberapa anak bahkan orang tua mungkin enggan bila tak mengganti
buku tulis lama dengan buku baru saat kenaikan kelas. Gengsi alasan tepatnya.
Namun hal ini adalah tantangan untukku bagaiman aku bisa membujuk adikku
menggunakan buku tulis mereka dikelas yang lama (kelas sebelumnya). Mereka bisa mengganti buku tulis mereka dengan yang baru jika
buku tulis lama mereka hanya tersisa beberapa halaman. Sedangkan untuk buku
yang masih menyisakan banyak halaman kosong, mereka masih bisa
menggunakannya di kelas baru mereka. Bukankah
itu juga
termasuk berhemat karena para orang tua tak perlu menyetok banyak buku tulis baru?!
Buku- buku bekas yang masih memiliki beberapa halaman kosong juga masih berguna. Halaman kosong itu cukup dirobek dan digabungkan
dengan halaman-halaman kosong lain dari buku yang laing hingga meyerupai jilidan. Anak-anak tentu
senang dengan ‘Jilidan’ kertas tersebut. Mereka bisa menggunakannya untuk
coretan Matematika atau coretan iseng (gambar).
Menurutku itulah langkah simpel mmenghargai alam. Saat ini memang lahan kosong sangat jarang ditemukan
dan itu jugalah yang membuat manusia sedikit kesulitan menanam pohon. Kita bisa
“menabung pohon” yang sudah ada dengan menghemat kertas Lagipula, menunggu pohon tersebut tumbuh juga tak bisa dikatakan sebentar. Jadi kenapa tak mencoba mempergunakan apa yang sudah ada dengan
sebaik-baiknya?! Nabung pohon tak selalu melakukan penanaman seribu pohon, nabung pohon
bisa juga menggunakan kertas bekas menjadi kertas yang berguna.
http://www.kompasiana.com/cimbniaga/
Minggu, 28 April 2013
Hunger of Hunger Games
Pertama kali aku kenal Hunger Games itu saat ada
pengumuman “Jakarta Adventure Day”. Acara ini ternyata diselenggarakan oleh dua
komunitas yaitu Indo Harry Potter dan Indo Hunger Games. Sebulan setelah
pengumuman acara tersebut, aku iseng mencari tahu apa sih Hunger Game itu. Aku,
seperti orang awam kebanyakan, berfikir apa hubungannya Harpot dengan Hunger
Game. Aku pikir itu hanya salah satu game (merujuk kepada kata Game dari frasa
The Hunger Games) seperti Lost Saga, Point Black, dll. Apalagi kata Mockingjay
itu gak asing bagi telingaku. Rasa rasanya pernah dengar gitu.
Ternyata Hunger Games itu novel trilogi karangan
Suzanne Collins. Aku tertarik saat membaca kritik untuk buku ini yang katanya
kejam. Bagaimana tidak, dalam permainan Hunger Games anak-anak kecil diadu
untuk saling bunuh. Wuih… seru deh kayaknya kalau baca bukunya.
Aku yang pada dasarnya suka heboh jika menemukan
sesuatu yang WAH, langsung berkata-kata sendiri di depan komputer hingga
menarik perhatian teman-teman kerjaku. Aku jelaskan pada mereka bahwa aku penasaran
dengan cerita The Hunger Games. Eh,, ternyata teman kerjaku malah sudah pernah
nonton film-nya. Dan dia berjanji esok hari akan membawakan kasetnya untukku.
(Aku tambah terkejut saat tahu Novel ini sudah diadaptasi ke film). Aku pun
bergembira sekali dan segera mencoba mencari e-book The Hunger Games dan akhirnya
aku berhasil menemukan ketiganya (The Hunger Games, Catching Fire, dan
Mockingjay). Semuanya versi bahasa Inggris, tapi tak apalah. Yang terpenting aku
bisa baca.
Dua minggu lamanya aku tenggelam dalam layar laptopku.
Kerjaanku hanya baca, baca dan baca. Ternyata novelnya keren banget. Apa saja yang keren? Mau tahu? Kasih tahu
nggak ya? Ehehehe.
Menurutku, yang keren itu sih dari peraturan Hunger
Games sendiri yang brutal (ya iyalah, anak-anak kecil diadu untuk saling bunuh.
Mereka kan manusia, bukan domba atau ayam jago). Yang lebih mirisnya, sebelum
dilepas ke arena, para tribute (24 anak itu) dimanjakan. Lihat saja mereka
didandani menjadi sangat cantik dan tampan, padahal mereka (beberapa)
sebelumnya tak pernah memakai baju bagus dan berpenampilan menarik. Selain
pakaian, mereka juga bisa makan apa saja. Makanan yang sangat mewah dan mahal yang
belum pernah mereka makan karena sebelumnya mereka terbiasa hidup miskin dengan
perut selalu keroncongan. Ironis banget. Mereka kan tahu apa tujuan mereka ikut
Hunger Games. Untuk bertarung dan mati (setidknya 23 dari mereka). Dan Capitol
memperlalukan mereka persis seperti babi yang akan disembelih.
Selain peraturan Hunger Games yang miris, aku juga
hanyut akan kehidupan Katniss sendiri. Thumbs up deh dan setuju banget dia itu
survivor. Sejak umur sebelas tahun dia jadi kepala keluarga dan selalu berjuang
menghidupi ibu dan adiknya. Penggambaran Suzanne atas Katniss membuatku ingat
akan diriku. Aku juga anak pertama dan aku berasal dari keluarga yang biasa
saja. Aku harus berjuang menghadapi kemelut hidup ini demi ibu dan tiga adiku.
Yah, untuk ayahku juga sih. Hanya saja peran kepala keluarga sudah terbagi pada
diriku, tak mutlak dimiliki beliau.
Cara Katniss berjuang ini mengingatkanku untuk tak
lepas kontrol pada nafsu dan menyadarkaknku akan lima nyawa lain di rumah.
Bahkan penggambaran rasa lapar merasuk dengan kuat dalam azzamku. Aneh memang, Indonesia
masih memiliki banyak masyarakat kelaparan yang sering ditampilkan di layar
kaca, tapi entah kenapa penggambaran Suzanne Collins-lah yang benar-benar
menyentuhku dan membuatku merasa sebagai Katniss Everdeen.
Poin menarik ketiga mengenai star-crossed lovers
district 12 yaitu Katniss dan Peeta. Jujur saja, dari ketiga buku aku sangat
menyukai Catching Fire karena di buku tersebut banyak menceritakan Peeta dan Katniss
yang melibatkan emosi(perasaan). Aku menyukai bagaimana cinta mereka tumbuh
melalui Hunger Games dan kata-kata ”That’s what we do, protect each other”
mengingatkanku pada partner perjuanganku di organisasi. Rintangan dalam berorganisasi
membuat hubungan kami dekat walau sebelumnya kami hanya teman biasa yang hanya
berkata ’Hai’ sat bertemu sebagai basa-basi. Di organisasi, kami saling
menguatkan, saling menghibur bahkan bekerjasama menyelesaikan tugas-tugas
kuliah. Sayang, aku tak bisa mempertahankan hubungan ini. Dan kami kembali
seperti dulu, menjadi teman biasa.
Poin keempat, dalam seri ketiga (Mockingjay), aku
hanyut dalam perasaan Katniss yang galau tingkat dewa. Bagaimana tidak, banyak
orang-orang yang dia cintai harus terancam. Katniss tak suka Distrik 13
memperlalukan dirinya dan tak ada satu orangpun yang mengerti dirinya dan mampu
menentramkan hatinya. Memang ada orang yang tepat, hanya saja orang itu berada
dalam cengkeraman Capitol, Peeta Mellark. Jika saja Peeta ada di distrik 13
bersama Katniss, tentu dia akan mendukung apapun yang dilakukan Katniss dan
menetramkan Katniss saat Katniss bermimpi buruk, bukan seperti Gale yang keras kepala dan
penuh emosi.
Ada bagian yang kusuka disini. Saat Finnick telah
menikah dengna Annie, Katniss iri melihat Finnick yang selalu menggenggam
tangan Annie. Katniss iri karena Finnick bisa melakukan itu sesukanya dan
dengan bahagia. Katniss membandingkan hal ini dengan dirinya. Bagaimana dia
selalu show up dengan Peeta namun itu hanya akting dan bagaimana dia dengan
Gale yang serba salah dan nyaris kaku. Ah,, dasar cinta. Deritanya tiada akhir (Patkai
kali)
Anyway, Ladies and Gentlemen, those all what I feel
about The Hunger Games. May the odds be ever in our favor. Mischief managed,
then Nox (eh, itu Harry Potter)
#Hunger of November. Nggak sabar mau nonton Catching
Fire :)
Kamis, 18 April 2013
Hotter Potter April Meme
Untuk bulan April ini, Hotter Potter memberikan pertanyaan Giveaway yang berupa
“Jika kamu berkesempatan mengunjungi toko buku Flourish and Blotts, buku apa yang akan kamu bawa pulang dari sana? Pilih 1 (satu) buku saja! Jangan lupa sertakan alasannya…”
Wow,, buku. Dengar katanya saja jadi melayang. Ehehe. Sebagai predator buku, pastinya suka banget baca dong. Dan jika aku bisa datang ke Flourish and Blotts serta membeli dan membaca buku sihir, it will be awesome and unforgettable experience.
"I'm never stocking
them again, never! It's been bedlam! I thought we'd seen the worst when we
bought two hundred copies of the Invisible Book of Invisibility — cost a
fortune, and we never found them."
Bukankah hal misterius
yang selalu dikejar manusia? Sesuatu yang tak bisa dilihat dengan mata
telanjang, seperti cinta :) justru dengan kemisteriusannya itu yang menjadi
daya tarik. orang-orang akan terus berusahan untuk mendapatkanya. seperti aku
yang sangat ingin mendapatkan "The Invisible Book of Invisibility" :)
Langganan:
Postingan (Atom)







