Jumat, 08 Februari 2013

New Author Reading Challenge 2013


First time joining this event. Memang bener-bener pantas deh disebut tantangan. Dalam event New Authors 2013 Challenge ini, setiap peserta ditantang untuk banyak membaca buku fiksi dengan tujuan menemukan pengarang-pengaran baru yang tulisannya kompeten. Seperti sang host Ren bilang ini adalah: … menemukan pengarang yang bukunya belum pernah kamu baca sama sekali. Jadi challenge ini bisa membuat kamu menemukan buku – buku baru yang mungkin sebelumnya kamu abaikan atau ingin baca tapi ga kesampaian terus. Selain itu, pas juga dong buat mengurangi buku di timbunan.
Jadi, aku mencari buku-buku yang ditulis oleh pengarang yang bukunya belum perna kubaca sama sekali alias pengarang baru dalam daftar bacaanku. Aku mengambil level Easy (10-12 buku), dengan daftar bacaan sebagai berikut:

1.  Dean Kontz: Breathless
2. W.D Yoga: Ledgard, Musuh Dari Balik Kabut READ
3. Catherine Lim: Following the wrong God home
4. Tere Liye: Daun yang jatuh Tak pernah membenci angin
5. Arturo Perez Reverte : Captain Alatriste
6. Lisa Childs: Haunted
7.  Ollie: Alpha wife READ
8. John Grisham: The Brethern
9. Dan Brown: Digital Fotress
10. Stephanie Mayer: Breaking Dawn READ
11. Gail Carson Lavine: Ella enchanted

       Selain membaca, peserta challenge juga harus menyetor hasil bacaanya berupa meriview buku-buku yang telah dipilih -dalam kasusku dua belas buku diatas tadi- tanpa diperbolehkan re-read. Seru kan?! Aku akan mencoba teguh mengikuti event ini dan harus bisa naik level dengan menambah jumlah buku bacaanku. Ma’a najah :)

Senin, 28 Januari 2013

Review buku Harry Potter dan batu Bertuah

 Aku masih ingat pertama kali aku membaca seri pertama buku Harry Potter. Saat itu aku masih duduk di kelas 6 sd. Sejujurnya, aku sudah membaca seri kedua sebelum aku membaca seri yang pertama. Membaca seri yang pertama memberiku sedikit pemahaman dari hal-hal yang kubaca di seri ke dua.

Aku sempat membaca versi bahasa Inggrisnya saat aku duduk di bangku kuliah. Saat itu aku berada di semester tiga. Masih muda untuk memahami kesusastraan. Aku membaca Hary Potter and the Sorceres Stone secara sekilas karena aku ingin tahu bagaimana gaya tulisan Rowling.

Dan dengan adanya event Hotter Potter Reading Event, aku kembali membaca e-book Harry Potter dan Batu Bertuah setelah sebelas tahun. Membaca  untuk kedua kalinya benar-benar mengagumkan, seperti aku baru pertama kali membaca cerita Harry Potter. Selain itu, usia yang bertambah juga membuatku mendapatkan lebih dari sekedar cerita dari coretan Tante Rowling ini.

Seri pertama Harry Potter menceritakan tahun pertama Harry di sekolah sihir Hogwarts. Bagaimana Harry yang bukan siapa-siapa dan selalu merasa salah tempat tiba-tiba dikagumi dan dikenal banyak orang yang bahkan Harry sendiri tidak mengenal mereka. Hogwarts jugalah yang membuat Harry merasakan bagaimana tinggal di rumah karena untuk pertama kalinya Harry bisa makan sepuasnya, tidur dengan nyaman dan tentu saja memiliki teman-teman yang menerimanya dengan senang hati.

Selain menemukan rumah, Harry juga mengalami petualangan seru mendapatkan Batu bertuah. Petualangan ini dimulai dari berita tentang Bank Gringgots yang berhasil dimasuki perampok. Harry yang mengetahui bahwa lemari besi yang dimasuki telah dikosongkan, karena Harry menemani Hagrid mengambil sebuah bungkusan di lemari besi tersebut, terus menerus menanyai Hagrid untuk memberitahu tentang isi bungkusan di lemari besi tersebut.

Berbekal ucapan kelepasan Hagrid, Harry dan kedua sahabatnya, Ron dan Hermione mulai melakukan investigasi mengenai Nicholas Flamel sampai akhirnya mereka mengetahui tentang Batu Bertuah sekaligus fungsinya. Mereka juga sadar bahwa Batu tersebut disembunyikan di Hogwarts dengan perlindungan ekstra dari para guru Hogwarts.

Aku suka gaya menulis Rowling yang menyebutkan karakter seakan mereka hanyalah figuran biasa namun ternyata karakter tersebut memiliki peran penting di buku-buku selanjutnya. Sebagai contoh adalah Sirius Black. Namanya muncul ketika Hagrid menjawab pertanyaan Dumbledore tentang motor terbang yang dikendarainya. “Pinjam, Professor Dumbledore. Srius Black muda pinjamkan padaku. Aku dapat dia, Sir.”

Lau ada Mrs.Figg yang dikenalkan Rowling sebagai tetangga keluarga Dursley yang suka mereka mintai tolong untuk menjaga Harry saat mereka pergi. Selain itu ada juga adik Vernon Dursley yang biasa disebut Bibi Marge, Dedalus Digle yang juga sahabat Dumbedore, Scabbers yang menjadi tikusnya Ron, dan bahkan kemampuan Parseltongue Harry, yang memang sangat jarang bagi penyihir sekalipun.

Setelah menekuni isi cerita ini, aku semakin tertarik dengan tulisan tante Rowling. Yang membuat buku Harry Potter berbeda dengan novel fantasi lainnya-sekalipun novel tersebut bertemakan sihir- adalah bahwa sihir itu benar-benar ada! Maksudku anak-anak merasa mereka mampu mempelajari sihir dengan menirukn mantra-mantra yang disebutkan di buku Harry Potter dan batu bertuah ini. Contohnya saja, Alohomora, Petrificus Totalus, Locomotor Murtis, dan tentu saja yang paling popular (bahkan beberapa acara tivi meniru mantra ini untuk adegan sihir) adalah Wingardium Leviosa.

Hal lain yang kusukai dari novel ini adalah tentang prejudice (prasangka). Bagaimana para darah murni membenci muggle dan juga kelahiran muggle. Contoh dari hali ini termaktub dalam adegan dimana Harry akan membeli jubbah sihir barunya. Disana dia bertemu Draco Malfoy dan mereka terlibat percakapan. Ucapan Draco dapat dinilai sangat kasar untuk anak seusianya. Namun Draco juga tak bisa seenaknya disalahkan. Dia dibesarkan dengan prasangka jelek terhadap Muggle dan kelahiran Muggle. Topik inilah yang membuatku teringat akan politik Apartheid dimana ada perbedaan antara kulit hitam dan putih. Para kulit putih muda terkadang merasa malas bergaul dengan para kulit hitam muda. Ini karena prasangka yang ditanamkan para orang tua saat mereka sejak balita dan itu mempengaruhi pemikiran mereka bahkan ketika mereka dewasa.

Satu hal lucu mengenai Harry Potter. Membacanya seakan aku menemukan kehidupan baru. Menekuni lika-liku kehidupan Harry di tahun awal Hogwarts membuatku tertantang untuk merasakan hidup di asrama. Aku bahkan membayangkan asramaku akan menyerupai Hogwarts J. Itu sebabnya aku tak membawa piring ketika perpindahanku ke asrama. Karena aku berfikir para murid akan makan bersama di Aula Besar.

Inilah review buku Harry Potter dan Batu Bertuah-ku. Nggak nyangka bias ikut event seru ini. Apalagi tentang meriview buku. Padahal baru dua minggu yang lalu aku mengajarkan murid-muridku mereview buku James and The Giant Peach-nya Roald Dahl, ternyata aku juga ikut perpartisipasi mereview buku. Hanya saja buku-buku karya JK rowling J    

 
  

Hotter Potter January Meme


  Mulai tahun kemarin, tepatnya bulan Desember, di buka event “Hotter Potter Reading Event”. Jadi selama tujuh bulan kedepan, dimulai bulan ini (Januari), peserta acara ini membuat artikel mengenai review buku- buku Harry Potter dari buku pertama sampai yang ke tujuh. 

Disamping adanya reviev buku, ada lagi acara serunya, yaitu “Monthly Meme”. Setiap bulannnya Meme ini berganti. Untuk bulan ini, peserta diminta untuk berandai-andai menjadi salah seorang guru di Sekolah Sihir ternama di Inggris, yaiu Hogwarts School of Witchcraft and Wizardy. Pertanyaanya adalah:

‘”Jika kamu menjadi salah satu guru di Hogwarts, kamu ingin menjadi siapa? Alasannya?

Wow guru! Sebuah pekerjaan yang menantang. Apalagi yang diajarkan juga bukan hala biasa. Bukan science, sosial, matematika, behasa inggris atau juga kewarganegaraan layaknya di dunia Muggle. Ini tentang sihir! 

Aku ingin menjadi Remus John Lupin atau biasa disebut Professor Lupin. Beliau mengajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam dan merupakan satu-satunya guru PTIL yang bukan sepenuhnya manusia. Ya, karena Lupin adalah seorang manusia serigala. Professor Remus John Lupin,diperkenalkan sebagi sosok yang bisa dibilang aneh. Lihat saja bagaimana  keadaanya saat terlihat di  Hogwarts Express untuk pertama kalinya. Tidur dengan lelap layaknya beruang yang berhibernasi dengan jubah kumal nan dekil serta sebuah koper butut. Sekilas penampilannya menimbulkan spekulasi yang tentunya negative. Kuno, kampungan, miskin atau jorok. Namun spekulasi itu segera menguap, tidak hanya bagi para murid yang melihanya tidur di kompartemen melainkan juga para pembaca, saat Lupin mampu mengatasi kunjungan Dementor Azkaban di salah satu kompartemen kereta dengan santainya. Ternyata Lupin tak selemah penampilannya.

Dalam pengajaran, Lupin termasuk ahli dalam bidangnya. Ini yang membuatku tertarik pada Lupin. Metode pengajarannya yang mempesona. Beliau mampu menbuat susasana kelas hidup, dilihat dari persiapannya yang matang untuk mengajar. Lupin selalu membawawa alat peraga atau menunjukkan secara langsung objek yang tengah mereka pelajari. Metode inilah yang membuat para murid cepat mengerti dDitambah lagi dengan praktek. Hal ini yang membuat para murid menyukai beliau. Karena mereka belum pernah merasakan apa yang disebut belajar dalam PTIL setelah dua tahum di Hogwarts, mengingat dua guru sebulumnya jauh dari layak dalam mengajar (Quirrell sendiri dikenal sangat penakut dan Lockhart hanya mengumbar kata bagaimana hebat dirinya).

Mengingat salah satu fungsi guru adalah sebagai motivator, Lupin tidaklah buruk sebagai motivator. Lupin mampu membangun semangat murid-muridnya dengan baik. Ini dapat dilihat saat Lupin akan mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam kepada murid Gryffindor kelas tiga untuk pertama kalinya dimana Neville diejek oleh Snape tepat didepan kawan-kawannya dan juga gurunya (Lupin)

Mungkin sudah ada yang mengingatkanmu, Lupin, tetapi di kelas ini ada Neville Longbottom. Kusarankan kau jangan memberinya tugas yang sulit. Kecuali kalau Miss Granger mendesiskan petunjuk di telinganya (hal. 168, brs 8-12).

Saat itu Lupin menanggapi ucapan remeh Snape dengan berkata, “Aku malah berharap Neville membantuku pada langkah awal praktek ini dan aku yakin dia akan bisa melakukannya dengan mengagumkan

Dan memang Lupin melakukannya. Lupin mampu mendongkrak keberanian dan juga kepercayaan diri Neville untuk menghadapi Boggart. Lupin memancing Neville tanpa disdari Neville sendiri untuk membuat Snape tampak sangat konyol (terlepas masa lalu antara Snape dan Lupin sendiri) hanya untuk membuat Neville semakin yakin dan mantap terhadap dirinya sendiri.
Hal lainnya mengenai guru adalah “Tidak pernah ada kata mantan untuk gelar guru (mantan guru). Sekalipun sang guru tidak mengajar murid tersebut, bukan berart sang guru terlepas total dari pendidikan si murid tersebut”. Contohnya dalam buku ke tujuh. Lupin yang ingin mengunjungi Harry, Ron dan Hermione di Grimmauld Place 12 dihadang oleh tiga tongkat mereka. Begitu melihat bahwa tamu mereka adalah Lupin, Ron dan Hermione segera menurunkan tongkatnya. Lain halnya dengan Harry yang masih mengacungkan tongkatnya ke Lupin dan meminta beliau menunjukkan dirinya.

“Aku Remus John Lupin, manusia serigala, kadang-kadang diknal sebagai Moony, satu dari empat pencipta Peta Perampok, menikah dengan Nymphadora, biasanya dikenal sebagai Tonks, dan aku mengajarimu bagaimana menghasilkan patronus, Harry, yang mengambil bentuk rusa jantan.” (hal 273, brs 25-30). 

Setelah mendengar kata-kata Lupin, Harry pun menurunkan tanggannya. Lupin memuji perbuatan Harry dan menegur Ron serta hermione yang kurang awas.
“Bicara sebagai mantan guru PTIL kalian, aku setuju sekali kau harus mengecek. Ron, Hermione, kalian seharusnya tidak secepat itu menurunkan pertahanan kalian.”(hal 274, brs 3-6)

Dalam hal ajar-mengajar, kita mengenal kata-kata bahwa murid belajar dari guru karena guru yang mentranfer ilmu. Namun sebenarnya gurulah yang lebih banyak belajar dari muridnya akan makna kehidupan. Ini cocok sekali diberikan atas hubungan Lupin dan Harry. Dalam buku ketiga, Lupin memang berperan sebagai guru, beliau mengajarkan banyak hal tentang Pertahanan terhadap ilmu hitam kepada Harry yang menjadi muridnya. Lupin juga berbagi pengetahuan lain kepada Harry yaitu Patronus. 

Di sisi lain, layaknya manusia, Lupin juga lemah. Dalam buku ke tujuh dikatakan bahwa Lupin tengah galau akan hubungannya dengan Tonks. Beliau sempat merasa menyesal karena telah menikah dengannya dan secara tak langsung semakin merendahkan status keluarga Tonks (karena telah menikahi Tonks) ditengah rezim bar pemerintahan sihir saat itu. Saat itu Lupin yang putus asa mencoba membujuk Harry,Ron dan Hermione untuk ikut serta dalm misi yang ditinggalkan Dumbledore kepada mereka bertiga sebagai usaha pelarian Lupin dari Tonks. Namun setelah mendengar penuturannya, Harry malah menyerang dengan kata-kata;

“Oh, begitu. Jadi, kau mau membuang dia dan anak kalian begitu saja dan kabur bersama kami?”(hal 285, brs 7-9)

“Jika rezim baru ini berpedapat kelahiran-Muggle itu buruk, apa yang akan mereka lakukan terhadapa anak setengah manusia serigala yang ayahnya anggota Orde? Ayahku meninggal dalam usahanya melindungi ibuku dan aku, dan kau menduga dia akan menyuruhmu meninggalkan anakmu untuk pergi berpetualang dengan kami?” (hal 286, brs 18-24)

“Aku tak akan pernah mempercayai ini. Orang yang mengajariku melawan Dementor-ternyata pengecut.” (hal 287, brs 3-5)

Ucapan Harry memang sngaat menyinggung Lupin dan nyaris membuat mereka terlibat dalm duel. Bahkan Ron dan Hermione yang menyaksikan hal ini sangat shock. Sepeninggalnya Lupin, Harry membela diri di depan kedua sahabtnya dengan berkata “Orang tua, tak boleh meninggalkan anak-anak mereka kecuali-kecuali terpaksa” (hal 288, brs 1-2).

Aku sangat menyukai Lupin dan juga pelajaran yang diajarnya. Pertama kali membaca Harry Potter dan menemukan sebuah pelajaran dengan nama Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, aku semakin penasaran. Karena selama ini sihir identik dengan hal-hal yang berbahaya, aku jaditergugah tentang seberapa berbahayanya dan pertahanan macam apa yang harus digunakan untuk menangkis “sihir hitam”. Dua tahun “menghabiskan” waktu menekuni Hogwarts tak membuatku paham akan PTIL. Namun berkat Lupin aku kini paham tentang makhluk-makhluk aneh serta mantra atau cara-cara mengatasinya. Lagipula, untuk menjadi seorang Auror dbutuhkan nilai yang tinggi untuk pelajaran ini.


 

Selasa, 22 Mei 2012

Venus ku


Hal yang kusukai
Ketika melamunkan dirimu
Coletehmu, sikapmu dan hidupmu
Walau ku tahu kau tak peduli
Mungkinkah begitu?
Karena memang kita terpisah
Dalam jarak yang nyata dan kasatmata

Fikirku entah ada dimana
Ku hanya tahu anganku peluk dirimu
Bercumbu muka tuk katakana
Yang tak pernah terucap
Aku sadar mungkin ini terlambat
Disaat warna hidup kita kian berbeda
Tapi tidakkah kau tahu, Venusku
Bahwa fikiranku terfokus padamu

 by Ughie
(persembahan untuknya yang telah menawan hatiku)



UGHIE ;
Hari yang terlewati sarat akan makna
Tatkala hati yang kosong
Dan jiwa dipenuhi kehampaan
Setia dalam penantian
Tak sanggup tuk berkata
Berusaha menjalani hidup dengank kepura-puraan
Saat begian diri entah ada dimana

Dengarkah kau yang disana?
Ketika hati merintih dan jiwaku memanggilmu
Pada rasa rindu yang kian menusuk
Aku disini terperangkap dalam khayalan
Tapi kepercayaan pada keajaiban memaksaku maju


Hati didera rindu yang kian menusuk
Berkutat dalam usaha pemendaman hasrat yang bergejolak
Membuat jiwa ini makin tak berdaya
Sampai kapan ku harus memendam harap yang tak pasti
Menyaksikan jemari kecil ini menggapai asa kosong
Sanggupkah diri ini larut dalam harapan kandas???

Jumat, 18 Mei 2012

Sempurnaya Melankolis


Dari katanya saja, Melankolis, bisa disimpulkan bahwa arti atau maksudnya adalah sedih. Itu sih memang menurut penafsiran orang kebanyakan. Tapi mungkin kita lebih familiar dengan kata melow dan galau. Memang, orang yang memiliki karakter Melankolis dikenal senagai karakter yang selalu mellow dan galau. Benarkah begitu??? Ah tidak juga.
Melankolis berasal dari kata melanchole (bahasa Yunani) yang berarti empedu hitam. Dalam dunia psikologi, memang ada empat watak atau karakter manusia, yaitu Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Plegmatis.
Kebanyakan orang menyimpulkan orang Melankolis itu “Cemen” karena sifat mereka yang sering melow. Padahal orang Melankolis itu orang yang luar biasa. Si sempurna, itulah julukan untuk orang-orang yang memilik karakter ini. Julukan ini diberikan untuk mereka karena para Melankolis selalu menginginkan segala hal berjalan dengan baik. Selain itu, para Melankolis juga seorang pengamat dan pendengar yang baik. Walaupun mereka cenderung pendiam, tapi bukan berarti mereka acuh akan sekitarnya. Mereka dapat menganalisa hal-hal disekelilingnya.
            Sebagai seorang pengamat, mereka menyimpulkan segala hal yang mereka lihat, dengar dan rasakan sesuai definisi. Itulah istilahnya, “definisi”, langkah hati-hati yang selalu mereka lakukan. Walaupun mereka teliti dalam mengamati, mendengar dan menganalisa, terkadang sifat kehati-hatian mereka tersebut membuat mereka menjadi lambat dalam bertindak dan mengambil keputusan. Karena mereka membutuhkan waktu lebih lama dalam berfikir. Yah, walaupun tujuan mereka baik, yaitu untuk yang terbaik dan mencapai kesempurnaan.
Para Melankolis juga seorang pemerhati yang baik. Jika orang-orang disekitar kalian ada yang sangat perhatian, kemungkina besar orang tersebut memiliki watak Melankolis. Para Melankolis biasa perhatian pada orang-orang disekitarnya, seperti keluarga,sahabat, teman dan kekasih. Namun terkadang perhatiannya suka disalahtafsirkan oleh orang lain (terutama jika si Melankolis dan orang tersebut berbeda jenis kelamin).  Seolah ada udang di balik batu J. Jadi janganlah terkejut dengan orang yang suka perhatian. Para Melankolis melakukan hal ini semata-mata karena dirinya memang harus melakukannya karena ikatan di antara dirinya dengan orang tersebut. Entah sebagai anggota keluarga, sahabat, teman ataupun pacar.
  Melankolis juga seorang pencinta keindahan. Maka dari itu, mereka akrab dengan seni dan otak kanan mereka lebih mendominasi dari otak kiri mereka. Namun bukan berarti para seniman pasti memiliki karakter Melankolis dan para ilmuwan tidak berkarakter Melankolis.
Salah satu seni yang kebanyakan Melankolis geluti adalah sastra atau dunia tulisan. Sangat mudah untuk mengetahui karya para Melankolis. Karena tulisan mereka begitu menyentuh dan terkesan pesimis. Itu karena isi tulisan mereka lebih menekankan pada perasaan. Para Melankolis mampu mendeskripsikan ide mereka dengan sangat baik melalui tulisan karena mereka memiliki kepekaan yang tinggi dan erat hubungannya dengan perasaan. Mereka dapat mendeskripsikan dengan baik sebuah perasaan hingga si pembaca dapat terhanyut dalam tulisannya.
Namun dengan kepekaanya, Melankolis dapat menjadi pribadi yang berbahaya. Untuk tingkat rendah, mereka dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak suka disebut salah. Itu karena mereka selalu hati-hati dalam berencana dan bertindak. Jadi, jika mereka divonis bersalah, mereka sangat tidak suka. Dan untuk kategori yang besar, mereka adalah pendendam sejati. Sifat mereka yang peka ini mendorong kuatnya fikiran jangka panjang mereka, sehingga jika ada hal yang tak menyenangkan menusuk perasaanya secara berkelanjutan, mereka akan sangat marah dan terus menimbun perasaan marah ini hingga menjadi dendam. Untuk menghapus perasaan dendam ini, mereka butuh waktu yang sangat lama hingga bertahun-tahun.
  Kembali pada julukan “cemen”, julukan ini diberikan mungkin karena para Melankolis cenderung pesimis dan sering merasa tertekan. Dua sifat tersebut, pesimis dan tertekan, memang fakta dari karakter ini dan juga menjadi sisi kekurangan karakter “Sempurna” ini. Namun ada alasan mereka tetap bergelut dalam sifat ini, yaitu mereka butuh kekuatan. Walaupun mereka “sempurna”, mereka tak berpendapat bahwa diri mereka bisa menaklukkan apa saja. Mereka butuh motivator dan sandaran yang mampu mendongkrak kekuatan mereka. Dan berbicara tentang kekuatan besar, tentu ini mengacu kepada Yang Maha Tinggi. Benar, Tuhanlah tempat ketergantungan mereka. Dengan sugesti mereka yang selalu menginginkan ekuatan besar sebagai penopang, ini membuat kebanyakan Melankolis dekat dengan Tuhan (religius).
Dalam muamalah, Melankolis cenderung dekat dan nyaman dengan para Plegmatis. Ini dikarenakan sifat kedua karakter ini tak jauh berbeda. Plegmatis yang memiliki julukan “Juru Damai” ini memang senang berada di belakang layar, dengan kata lain mereka orang yang kalem bahkan cenderung pendiam. Selain itu sifat mereka yang optimis dan “Speak Up” mampu mengubur sifat pesimis dari para Melankolis. Maka tak heran bila para Melankolis lebih menunjuk para Plegmatis untuk menjadi orang terdekatnya, baik itu sebagai sahabat ataupun teman hatinya.
Walaupun mereka merasa nyaman berada dekat para Plegmatis, ini bukan berarti mereka menjauh dari Koleris dan Sanguinis. Dua watak ini juga mempengaruhi hidup mereka dengan penuh warna. Melankolis tetap butuh Sanguinis dan Koleris dalam kehidupan mereka. Sanguinis sebagai penyeimbang, antara pendiam (Melankolis) dan cerewet (Sanguinis). Sedangkan Melankolis butuh Koleris dalam persaingan, antara “Si sempurna” dan “Si ambisius”.
Melankolis memang tak pilih-pilih dalam berteman, namun Melankolis sangat selektif dalam sharing. Dan tak diragukan, jika Melankolis akan cepat merasa nyaman dengan Plegmatis dan tak segan untuk “membuka diri” dengan mereka.

[Mozaik Blog Competition] Soulmateku


http://mozaikpublishouse.multiply.com/journal/item/17?mark_read=mozaikpublishouse:journal:17&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Buku itu hanyalah lembaran kertas yang dipenuhi tulisan dan dijilid. Tapi kenapa ya sangat menarik? Banyak orang rela menghabiskan uangnya demi buku dan banyak pula yang menganggap buku adalah harta karun yang luar biasa. 

Bagiku buku itu adalah soulmate. Dia adalah teman yang menemaniku kemanapun aku pergi. Ehehe. Sebenarnya aku sih yang sengaja membawanya kemanapun aku pergi. J Rasanya ada sesuatu yang kurang bila di tasku tak ada buku. Walau dalam perjalanan aku tak membacanya, setidaknya aku merasa aman dan tenang bila ada sebuah buku di dalam tasku. Tapi kenapa harus buku ya? Karena buku itu soulmate-ku (bukannya sudah disebut sebelumnya?) 

Karena buku membuatku tak perlu keliling dunia, cukup dengan membacanya aku mengenal dunia. Setiap buku memang menawarkan dunia yang berbeda, dan aku selalu terpesona tiap menjelajahi dunia tersebut. Aku tahu tentang sihir dari Harry Potter, tahu indah dan kejamnya  cinta dari Romeo dan Juliet, tahu isinya Amerika Serikat dari The Lost Symbol dan Deception Point, tahu ketekunan dari Negeri Lima Menara, tahu kegigihan dari Laskar Pelangi, tahu sejarah bangsa Indonesia yaa dari buku pelajaran Sejarah, tahu kata-kata asing dari kamus dan tahu pedoman hidup dari Kitab Suci.

Bahkan novel yang selama ini dianggap remehpun sangat berarti buatku. Mereka seperti dosen. Karena mereka mengajariku tentang sastra. Yah secara, buku (maksudnya novel) memang karya sastra. Melalui kata-kata yang tertulis di novel tersebut, kita dapat mengetahui gaya bahasa si penulis. Bukan hanya itu, unsur-unsur intrinsik dalm novelpun dapat mengajariku. Dari tema, aku menyadari hidup itu mmiliki kerumitan yang bervariasi namun menghadapi dan menjalaninya adalah suatu nikmat yang amboy rasanya. Dari penokohan, aku mengenal watak dan karakter manusia dan artinya aku tak perlu kuliah di jurusan psikologi. Dari latar belakang, aku bisa mengetahui sejarah, budaya (yang mencakup gaya hidup, agama dan makanan khas), teknologi, bahkan mengenal ciptaan-NYA seperti alam, binatang dan tumbuhan lebih dekat. Dan satu lagi, plot. Plot mengajariku bahwa hidup itu penuh kejutan dan tak berakhir seperti keinginan kita. 

 
Buku tetap saja mengasyikkan sekalipun itu buku-buku berat (bukan saja karena tebal halamannya). Seperti buku biografi yang penuh motivasi, atau kumpulan karya Chairil Anwar, Jalaluddin Rumi atau Kahlil Gibran yang syairnya menyadarkan akan nikmat hidup sepenuhnya. 

Buku memang seperti makanan yang dikonsumsi setiap hari yang tanpanya manusia akan mati. Anehnya, semakin sering kita membaca, semakin bodohlah diri kita. Karena hal-hal yang kita tak ketahui lebih banyak daripada yang kita ketahui. Wajar saja bila ada kata mutiara buku adalah jendela dunia. Bahkan Ron juga membuat istilah “Kalau kau ragu, pergilah ke perpustakaan. Begitulah yang dlakukan Hermione “.

 Buku memang memiliki daya tarik magis yang luar biasa. Aku tak peduli bila teman-temanku menganggapku aneh ketika kami mengunjungi Mall dan toko bukulah yang langsung kutuju bahkan aku tak beranjak dari sana sampai kunjungan kami ke Mall itu selesai, atau ketika aku jadi tuli mendadak karena tengah melahap buku. Itu semua tak masalah bagiku. Yang menjadi masalah adalah  ketika mereka menjulukiku dengan KUTU BUKU. Karena aku bukan KUTU BUKU, melainkan PREDATOR BUKU. J

Kamis, 19 April 2012

Sahabatku

Sahabatku... 
Dia ini,, sangat berbeda dengan yang lain.
Sahabatku terkenal oleh keriangannya. Sebagai orang yg periang, tentu dia tak goyah ketika dirundung masalah. Karena dia memang tak memperlihatkan kacaunya perasaanya.
Sahabatku tetap tersenyum dan melontarkan kata2 lucu. Bahkn saat menangispun dia masih terlihat lucu. 
Dia memang slalu ceria. Tapi bukan berarti hidupnya baik-baik saja. Justru keceriaanya itu adalah topeng.. Dia selalu ceria meskipun sesungguhnya dia telah bertahan dalam menampung barelan air mata.
Sahabatku memang hebat.....
Dia berjuang melewati semua keterbatasnnya. Terbatas,,!! Itulah kata yang selalu dia sebut dalam mendeskripsikan dirinya. Karena dia terlalu minder akan kekurangannya dan malu untuk menunjukkan kelebihannya. Dia selalu terfokus pada kekurangannya karena lingkungannya yang men-judge sepert itu. Dia tertekan pada pandangan oang-orang disekitarnya. Seolah pandangan mereka merajamnya hidup-hidup. Tapi dia masih ceria. Hal-hal tersebut tidak membuatnya frustasi. Atau dengan kata lain, dia mampu menyembunyikan rasa frustrasinya.
Tapi dimataku, dia sangat luar biasa. Orang tertangguh yg pernah ketemui-selain ibuku.. 
Sahabatku mengenalkanku pada survival.  Dia tak pernah bergantung pada orang lain. Jika  kita bergantung pada orang lain, saat kehilangannya kita akan rapuh tak berdaya.
Dia bisa sekuat itu karena sahabatku telah kehilangan orang yg sangat disayangnya. Orang yang selama ini melindunginya. Tapi dia tetap tabah. Sesusah apapun kita, kita tetap harus berjuang. Sejak itulah dia memutuskan untuk menghadapi segalanya sendiri
Menurut sahabatku....
Kita tak perlu berpangku pada sahabat yg lain. Karena kita tak akan bersama selamanya. Lebih baik berteman jangan bersahabat. Bersahabatlah dengan satu atau dua orang. Karena sahabat yg asli akan selalu ada. Walaupun jauh, dia tetap ada. Ada dalam setiap langkah kita. Dan dalam doanya dan harapannya.
Aku belajar kepedulian padanya. Dia selalu datang demi temannya walaupun jaraknya dan temannya itu jauh. Walau setelah pertemuannya dengan sahabatnya yang lain justru menyakitkan. 
Dia mengajarkanku akan pamrih dan pengorbanan dalam sebuah pemberian. Karena hal itu akan lebih bermakna dari pemberian yang bernilai mata uang. Yang penting kita bisa saling menghormati. Dengan melontarkan “Terima Kasih” atau “Bagusnya”. Itu sudah cukup.
Sahabatku menyadariku tentang indahnya cinta. Bahwa cinta itu adalah persahabatan.
Aku tak pernah mengistimewakan harinya. Aku tak bisa menjadi yg berarti baginya. Topi dia selalu mengistimewakanku. Dia tak sadar betapa kuat dan kreatifnya dirinya. 
Maaf sobat. Aku tak pernah membuatmu tersenyum ataupun tertawa. Karena saat kita berhadapan, justru air matalah yang selalu ada darimu. Maaf aku tak bisa bersifat sangunis sepertimu.